TOP NEWS

paradika suka berpetualang.

Sabtu, 06 Oktober 2012

yukk Belajar Pertolongan Pertama

penjagaan @Balairung

sebelum masuk terlalu jauh,, kita ketahui dulu dasarnya yukk

1. Pengertian 
Dasar Pertolongan Pertama adalah pemberian pertolongan yang bersifat segera kepada penderita sakit atau korban kecelakaan yang memerlukan penanganan medis dasar untuk mencegah cacat atau maut.
2. Tujuan Pertolongan Pertama
diingat yaaaa....kalo kita tau tujuan nanti kita akan tau tindakan yang harus deiberikan,,,,so let's check it out
a. Mencegah kematian
maksudnya ni temen2... kalo kita menemukan korban dengan pendarahan, kalo kita tangani dengan cepaat dan tepat maka akan mencegah kehilangan darah yang banyak. (klo kehilangan darah yang banyak bisa dibayangkan kan pasokan oksigen juga akan berkurang nahhh lama-lama otak gaga berfungsi, kalo otak gag berfungsi lama kelamaan jaringn2 juga akan mati)

b. Mencegah kecacatan lebih lanjut
kenapa bisa?? jadi gini teman2.. kalo kita ketemu korban dengan patah tulang..kalo kita melakukan tindakan yang tepat seperti membidai nanti akan mengurangi gerak si korban atau kalo diistilah medis namanya di imobilisasi, karena gerak yang berlebihan pada patah tulang akan menyebabkan nyeri dan cacat lebih lanjut. 

c. Mencegah terjadinya infeksi
infeksi? sudah tau kan temen2 infeksi itu apa?? bisa dibayangkan ya?hehe
kita misalkan saja ya temen2 kalo ada korban dengan luka, kita biarkan,, apa yang terjadi?? hwaa..debu, kotoran, kerikil, bisa masuk kan? trus kalo udah masuk kuman itu senang banget bersahabat dengan luka yang ga dibersihkan secara yah ketemu dengan temannya yaitu si kuman juga hihihhihi..trus kalo uda klop tuh,,lama2 bersekongkol jadi cairan kekuningan tuh (nanah), kalo udah kaya gitu tuh merugikan penderitanya juga loh,,kadang tiba2 menggigil, panas dingin, dan lain2.
nahh,, jadi di sini kalo kita ketemu korban dengan luka segeralah kita bersihkan pke NaCl atau air yang mengalir, berikan iodin (sedikit aja), trus dibalut dehh biar kuman, kotoran, kerikil dan lain2 ga bisa masuk. 

d. Mengurangi rasa sakit
 tentunya dong... bayangkan aja kalo ada yang luka terus didiemin aja,,kebayang kan sakitnya? coba kalo kita bersihkan, rawat, hmm lama kelamaan lukanya kering dan ga sakit dehhhh... 

e. Memberi rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan gini nih temen2 maksudnya misal ada orang yang terkilir trus kita kasih tidakan pertolongan dengan tepat, emm kan ada tuh yang singkatan RICE, istirahatkan, kompres pake es, dan tinggikan, nanti si korban akan merasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan juga sebelum dibawa ke dokter.

f. Mengusahakan perawatan serta pengobatan yang layak.
gini ni temen2,, bayangkan yahh kalo ketemu korban di hutan belantara trus akses jalannya susah.. nah disitulah tujuan pertolongan pertama untuk memberikan perawatan yang layak, kalo ada luka ya ditanagni lukanya, kalo ada patah tulang ditangani patah tulangnya. pengobatan yang lebih layak maksudnya emm dalam pertolongan kita juga menghubungi pihak terkait, misalnya ambulans, atau SAR kalo kisal ada di hutan...

Sampai sini sudah pada ngerti kan yah teman2...
lanjut yuuukk


Penilaian
Sebelum melakukan pertolongan kita lebih lanjut, kita lakukan penilaian terlebih dahulu.
Penilaian adalah tindakan mengenali masalah yang terjadi baik terhadap pendeita maupun situasi dan kondisi secara keseluruhan.
Mengapa penilaian perlu dilakukan??
1.       Penolong dituntut untuk betindak tepat dan cepat.
2.      Penilaian adalah dasar dalam menentukan tindakan pertolongan yang akan dilakukan.
3.       Penilaian yang cermat membuat pertolongan dapat dilakukan sebaik-baiknya.
Tindakan penilaian meliputi:
1.       Penilaian keadaan
2.      Pemeriksaan dini
3.       Pemeriksaan fisik
4.      Posisi pemulihan
5.       Riwayat penderita
6.      Pemeriksaan berkala atau lanjut
7.       Pelaporan
Untuk lebih jelasnya kita bahas satu persatu yukkk
1.       Penilaian keadaan
Dalam penilaian keadaan ini kita menganalisa bagaimana kondisi saat itu, kemungkinan yang akan terjadi, dan bagaimana mengatasinya. Nah, yang perlu diingat dalam melakukan pertolongan pertama adalah keselamatan penolong adalah yang pertama. Jadi, sebelum menolong, penolong mengamankan dirinya terlebih dahulu.
2.      Pemeriksaan dini
Pemerriksaan dini meliputi:
a.       Danger
Yang dimaksud dengan danger yaitu kemanan. Kemanan meliputi: keamanan penolonh, keamanan tempat kejadian, keamanan korban , serta keamanan orang-orang di sekitar korban.
b.      Respon
Cek respon korban. Cek respon meliputi 4 tingkatan yaitu:
1.       Awas. Bisa dicek dengan membayan-bayangi mata. Apabila korban berespon berarti korban berada dalam respon awas. Apabila tidak ada respon awas dilakjutkan pengecekan ke respon berikutnya.
2.      Suara. Bisa dipanggil namanya dan disentuh. Apabila tidak ada respon suara dilanjutkan ke pengecekan respon berikutnya.
3.       Nyeri. Bisa dengan menekan bagian yang apabila dicubit terasa nyeri. Misalnya di alis mata. Apabila masih tidak ada respon  maka kita lanjutkan ke tingkatan respon selanjutnya.
4.      Tidak ada respon. Kalau korban dilakukan ketiga respon di atas tetap tidak menunjukkan respon, maka korban berada dalam tingkatan tidak ada respon.
Apabila bertemu dengan korban dengan tingkat respon tidak ada respon hal yang dapat dilakukan yaitu mengecek napas dan nadi.  Pengecekan napas dilakukan secara simultan dan cepat. Apabila tidak ditemukan napas/gasping langsung meminta pertolongan orang sekitar, menelpon ambulance atau menyuruh orang memanggil bantuan. Hal tersebut sesuai terdapat pada AHA 2010 yaitu “meminta pertolongan orang di sekitar, menelpon ambulance, ataupun menyuruh orang untuk memanggil bantuan tetap menjadi prioritas, akan tetapi sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan kesadaran dan ada tidaknya henti nafas (terlihat tidak ada nafas/ gasping) secara simultan dan cepat”. Lalu dilakukan pengecekan nadi. Pengecekan nadi dilakukan pada nadi karotis atau di leher dengan cara tiga jari diletakkan di atas jakun lalu ditarik ke samping. Pemeriksaan dilakukan di nadi karotis disebabkan oleh vena tersebut paling dekat letaknya dengan jantung sehingga nadi yang teraba keras. Pengecekan nadi dilakukan sekitar 10 detik, dalam pengecekan nadi ada 3 kemungkinan yaitu: ada nadi, ragu-ragu (antara ada dan tidak ada), serta tidak ada nadi. Apabila ragu-ragu dan tidak ada nadi serta ditemukan tidak ada napas/gasping langsung lakukan tahap selanjutnya yaitu chest compression.
c.       Circulation (Chest Compression)
Chest compresion merupakan tahap yang dilakukan pertama kali dari RJP. Resusitasi jantung paru (RJP) adalah suatu kombinasi antara pijatan jantung dari luar dengan pernapasan buatan yang dilakukan pada saat seseorang mengalami henti napas dan henti jantung. RJP dilakukan karena jantung yang bertugas untuk memompa darah yang mengandung oksigen ke seluruh tubuh berhenti memompa sehingga perlu dilakukan pompa/pijat jantung luar secara manual. Kombinasi dengan bantuan napas karena pada saat henti napas perlu dilakukan napas buatan secara manual untuk mensuplai oksigen ke sel otak yang merupakan pusat kehidupan manusia. Akan tetapi sebelum melakukan RJP dilakuakan dulu kontrol pendarahan besar.
RJP sesuai dengan rekomendasi AHA terbaru yaitu pemberian kompresi dada (Compression), airway (jalan napas), breathing (bantuan napas). Rekomendasi tersebut berlaku bagi orang dewasa, anak, dan bayi. Rekomendasi tersebut tidak berlaku pada neonatus. RJP dilakukan dengan perbandingan 30:2, dilakukan selama 5 siklus. Terdapat juga syarat penghentian RJP yaitu: penghentian dilakukan apabila penolong lelah, korban sadar, tim medis telah datang, dan terdapat keyakinan bahwa korban sudah meninggal.
Pada tahap chest compression, penekanan dilakukan diantara puting susu dengan kedalaman setidaknya 2 inchi (5 cm) pada dada. Kecepatan untuk pemberian kompresi yaitu minimal 100 kali permenit (2 detik 3 kompresi). Posisi penolong sejajar dengan bahu korban, tangan penolong tegak lurus. Setelah dilakukan kompresi sebayak 30 kompresi yang dilakukan ialah memasang collar neck atau bisa dengan modifikasi dari sandal yang dibalut dengan mitela. Hal tersebut dimaksudkan untuk mencegah keparahan cedera servikal apabila terjadi cedera sebelum ke tahap selanjutnya yaitu membuka jalan napas (airway). Dimana bagian leher merupakan bagian penting yang harus dilindungi karena terdapat hipotalamus dan bagian-bagian tubuh penting untuk menyalurkan oksigen ke otak. Apabila telah terpasang langsung masuk ke tahap selanjutnya yaitu airway (jalan napas).

d.      Airway (jalan napas)
Hal yang dilakukan yaitu membuka jalan napas untuk menghilangkan sumbatan apabila terdapat sumbatan. Sumbatan dapat berupa sumbatan parsial maupun sumbatan total. Biasanya penyebab utamanya yaitu lidah dan benda asing. Teknik membuka ada 2 yaitu: angkat dagu tekan dahi dan jaw thrust maneuver. Untuk penolong pertama hal yang boleh dilakukan yaitu angkat dagu tekan dahi. Untuk jaw thrust maneuver hanya boleh dilakukan oleh penolong yang benar-benar terlatih atau tim medis yang terlatih. Apabila terdapat sumbatan, bisa dilakukan pembersihan dengan teknik finger sweep (sapuan jari). Teknik tersebut tidak boleh dilakukan pada bayi dan anak kecil, kecuali apabila benda asingnya sudah terlihat di mulut.
Untuk membersihakan napas pada orang dewasa bisa dengan Manuver Heimlich yaitu upaya membebaskan jalan napas karena tersumbat benda asing, berupa:
1.       Hentakan Perut (abdominal thrust) pd. penderita dewasa ada respon.
2.      Hentakan dada (Chest Thrust) pada penderita dewasa ada respon yang gemuk & ibu hamil.
3.       Hentakan Dada / hentakan perut pada penderita dewasa tidak ada respon.
Apabila jalan napas telah bersih, langsung masuk ke tahap selanjutnya yaitu Breathing (bantuan napas).
e.      Breathing (bantuan napas)
Teknik memberikan bantuan napas buatan   
1.       Melalui mulut penolong menggunakan  masker RJP/APD atau secara langsung ke hidung/mulut penderita.
2.      Menggunakan alat bantu berupa masker berkatup (BVM)
Frekuensi pemberian napas buatan :
Dewasa        : 10-12 x/mnt (1,5 -2 dtk/napas)
Anak (1-8th): 20 x/mnt (1-1,5 dtk/napas)
Bayi (0-1th) : > 20 x/mnt (1-1,5 dtk/napas)
Bayi (BBL)  : 40 x/mnt (1-1,5 dtk/napas)

Apabila nadi dan napas telah ada, tetap awasi dan pertahankan jalan napas. Lanjutkan ke tahap selnjutnya yaitu pemeriksaan fisik.
3.       Pemeriksaan fisik
Penilaian dini harus diselesaikan terlebih dahulu dan keadaan yang mengancam nyawa harus sudah ditanggulangi sebelum melanjutkan ke pemeriksaan selanjutnya yaitu pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan fisik hal yang dapat dilakukan yaitu mengenai:
Perubahan bentuk - (Deformities)
Luka Terbuka - (Open Injuries)
Nyeri - (Tenderness)
Bengkak - (Swelling)


4.      Posisi pemulihan
Setelah dilakukan pertolongan, koban dibaringkan dalam posisi pemulihan apabila ditinggalkan tanpa ada orang. Caranya yaitu: tangan koban diletakkan dipipi, kaki korban yang berlawanan dengan posisi penolong ditekuk, tubuh korban dihadapkan ke posisi penolong.
5.       Riwayat penderita
Hal yang dapat dilakukan ialah menanyakan riwayat penderita meliputi:
K = Keluhan Utama (gejala dan tanda)
O = Obat-obatan yang diminum
M =Makanan/minuman terakhir
P = Penyakit yang diderita
A = Alergi yang dialami
K = Kejadian.
6.      Pemeriksaan berkala atau lanjut
Lakukan pemeriksaan berkala, sesuai dengan berat ringannya kasus yang kita hadapi.
Pada kasus yang dianggap berat à lakukan pemeriksaan berkala setiap 5 menit
Pada kasus yang ringan à dapat dilakukan setiap 15 menit sekali.
7.       Pelaporan dan serah terima
Serah terima dilakukan di lokasi, yaitu saat tim bantuan datang ke lokasi, atau penolong yang mendatangi fasilitas kesehatan

Referensi:
American Heart Association (AHA)., 2010. Pedoman Cardiopulmonary Resucitation (CPR)  Perawatan Darurat Kardiovaskular. Jurnal Circulation
Divisi PEPER UKESMA UGM


 

23.40 Diposting oleh Unknown 0

Selasa, 02 Oktober 2012

Manajemen Post-Partum




1.  Kebersihan diri
Kebersihan diri meliputi kebersihan seluruh tubuh ibu post-partum.
a.  Pakaian
 Pakaian yang digunakan ibu pada masa nifas sebaiknya yang terbuat dari bahan yang mudah menyerap keringat dan tidak terlalu ketat, hal tersebut dimaksudkan supaya pada payudara tidak tertekan dan tetap kering serta pada daerah kelamin tidak terjadi iritasi.
b.  Mandi
Setelah persalinan, ibu dapat melakukan mandi secara normal pada pagi dan sore hari untuk menjaga kebersihan diri.
c.  Kebersihan kulit
Kulit pada ibu setelah melahirkan dapat dijaga dengan mandi lebih sering karena setelah melahirkan ibu akan mengeluarkan keringat lebih banyak.
d.  Kebersihan rambut
Kebersihan rambut setelah melahirkan dapat dilakukan dengan mencuci rambut menggunakan shampo/kondisioner. Pengeringan rambut dengan alat sebaiknya dihindari.
e.  Perawatan luka perineum/ luka persalinan
Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk mencegah infeksi pada
luka perineum:
a) Siapkan alat-alat seperti sabun dan pembalut bersih.
b) Cuci tangan dengan air mengalir.
c) Lepas pembalut kotor dari depan kebelakang.
d) Semprotkan atau cuci dengan sabun dari depan ke belakang, bilas dengan air bersih dengan cara yang sama.
e) Keringkan dengan washlap dari depan ke belakang.
f) Oleskan betadin dari depan ke belakang, jika ada luka jahitan.
g) Pasang pembalut dari depan ke belakang.
h) Rapikan alat dan cuci tangan.
i) Perhatikan tanda infeksi (kemerahan, bengkak, perdarahan disekitar luka, keluar nanah, terasa panas/ perih diluka, luka jahitan terbuka atau menganga). Hari ke-10  luka jahitan sudah menyambung dan sembuh.
j) Minimal ganti pembalut tiap 4 jam.
k) Mengurangi nyeri perineum: kompres es atau duduk rendam dengan cairan betadin.

2.  Istirahat dan tidur
Istirahat dan tidur merupakan hal yang penting dilakukan setelah ibu melahirkan. Pada saat istirahat, bukan berarti ibu tidak melakukan aktivitas apapun, tetapi ibu bisa melakukan kegiatan seperti berjalan-jalan untuk mencapai keadaan yang tenang, relaks, bebas dari rasa gelisah, dan bebas dari tekanan emosional. Pada saat tidur, ibu mendapatkan suatu perubahan kesadaran ketika persepsi dan reaksi terhadap lingkungan menurun. Setelah melahirkan, ibu sebaiknya mempunyai waktu yang cukup untuk tidur. Hal tersebut berguna bagi ibu karena: tidur dapat meregenerasi sel-sel tubuh yang rusak menjadi sel yang baru; memperlancar produksi hormon pertumbuhan; memperlancar produksi ASI; mengistirahatkan bagian tubuh yang lelah akibat aktivitas yang dilakukan; meningkatkan kekebalan tubuh; menambah konsentrasi.
   Pada saat istirahat setelah melahirkan, posisi tidur yang dianjurkan pada ibu yaitu telentang dengan satu bantal yang tipis. Hal tersebut dianjurkan untuk memudahkan pengawasan terhadap keadaan kontraksi uterus dan mengawasi pendarahan. Istirahat tidur yang diperlukan ibu setelah melahirkan yaitu sekitar 8 jam pada malam hari dan 1 jam pada siang hari.
   Apabila ibu mengalami kesulitan untuk beristirahat tidur, ibu dapat berkosultasi dengan dokter untuk pemberian obat tidur dan dilakukan observasi terhadap penyebabnya. Hal tersebut penting dilakukan karena apabila ibu kurang istirahat dapat berpengaruh terhadap jumlah ASI yang diproduksi; proses involusi; pendarahan; depresi;perawatan ibu terhadap bayi maupun dirinya.

3.  Senam dan Latihan
Senam nifas adalah senam yang dilakukan setiap hari sejak hari pertama melahirkan sampai hari kesepuluh yang terdiri dari gerakan-gerakan tubuh untuk mempercepat proses pemulihan.
a.  Tujuan senam pada masa nifas:
1)  Membantu mempercepat pemulihan keadaan ibu.
2)  Mempercepat proses involusi dan pemulihan fungsi alat alat kandungan.
3)  Membantu memulihkan kekuatan dan kekencangan otot-otot panggul, perut, dan perineum terutama otot yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan.
4)  Memperlancar pengeluaran lochea.
5)  Membantu mengurangi rasa sakit pada otot-otot setelah melahirkan.
6)  Merelaksasikan otot-otot yang menunjang proses kehamilan dan persalinan.
7)  Meminimalisir timbulnya kelainan dan komplikasi nifas, misalnya emboli, trombosia, dan lain-lain.
b.  Waktu melakukan senam nifas
Senam nifas dilakukan ibu setelah melahirkan apabila tidak terdapat komplikasi seperti hipertensi, kejang, pendarahan, demam maupun penyakit lainnya. Waktu melakukan senam nifas bisa pagi hari maupun sore hari. Sebaiknnya senam nifas dilakukan diantara waktu makan. Hal tersebut disebabkan oleh apabila sebelum makan ibu akan dikhawatirkan akan lemas, dan apabila setelah makan dikhawatirkan ibu akan merasa kurang nyaman karena perut masih terasa penuh.
c.  Hal-hal yang perlu dilakukan
Hari pertama
Posisi tubuh telentang dan rileks, lakukan pernafasan perut dengan cara ambil napas melalui hidung, kembungkan perut dan tahan hingga hitungan ke-5, lalu keluarkan napas pelan-pelan melalui mulut sambil mengontraksikan otot perut. Gerakan tersebut diulang-ulang hingga 8 (delapan) kali.
Hari kedua
Tubuh telentang dengan kedua kaki lurus ke depan. Kedua tangan diangkat lurus ke atas sampai kedua telapak tangan bertemu, kemudian turunkan kedua tangan perlahan-lahan sampai kedua tangan terbuka lebar hingga sejajar dengan bahu. Lakukan gerakan tersebut dengan mantap hingga otot sekitar tangan dan bahu terasa kencang. Gerakan tersebut diulang-ulang hingga 8 (delapan)   kali.
Hari ketiga
Posisi tubuh berbaring lurus dengan posisi tangan berada di samping badan dan kedua lutut ditekuk. Angkat pantat secara perlahan kemudian turunkan kembali pantan secara pelan-pelan (jangan menghentakkan). Gerakan tersebut diulangi sebanyak 8 (delapan) kali.
Hari keempat
Posisi tubuh berbaring dengan tangan kiri berada di samping tubuh dan tangan kanan di atas perut serta lutut ditekuk. Angkat kepala hingga dagu menyentuh dada sambil mengerutkan otot sekitar anus dan mengontraksikan otot perut. Turunkan kepala secara pelan-pelan ke posisi semula sambil mengendorkan otot sekitar anus dan relaksasikan otot perut. Pada saat melakukan aturlah pola pernapasan. Gerakan tersebut diulangi sebanyak 8 (delapan) kali.
Hari kelima
Posisi tubuh telentang, kaki kanan lurus, kaki kiri ditekuk, tangan kanan menyentuh lutut kiri yang ditekuk, sambil mengangkat kepala sampai dagu menyentuh dada disertai dengan mengerutkan otot sekitar anus dan mengontraksikan perut. Lakukan sebaliknya yaitu kaki kiri lurus, kaki kanan ditekuk, tangan kiri menyentuh lutut kanan yang ditekuk sambil mengangkat kepala sampai dagu menyentuh dada disertai dengan mengerutkan otot sekitar anus dan mengontraksikan perut. Lakukan gerakan tersebut secara perlahan-lahan. Gerakan tersebut diulangi sebanyak 8 (delapan) kali.
Hari keenam
Posisi tidur telentang, kaki lurus, kedua tangan berada di samping badan. Kemudian lutut ditekuk ke arah perut 90 derajat secara bergantian antara kaki kiri dan kaki kanan. Lakukan perlahan-lahan tetapi tetap bertenaga ketika menurunkan kaki. Gerakan tersebut diulangi sebanyak 8 (delapan) kali.
Hari ketujuh
Posisi tubuh telentang, kaki lurus, kedua tangan berada di samping tubuh. Angkat kedua kaki secara bersamaan dalam keadaan lurus sambil mengontraksikan perut, kemudian turunkan secara perlahan. Gerakan tersebut dilakukan sesuai kemampuan dan jangan memaksakan diri. Gerakan diulangi sebanyak 8 (delapan) kali.
Hari kedelapan
Posisi tubuh menungging, lakukan napas melalui perut. Kerutkan anus dan tahan 5-10 detik sambil ambil napas dan keluarkan napas pelan-pelan sambil mengendurkan anus. Gerakan diulangi sebanyak 8 (delapan) kali.
Hari kesembilan
Posisi berbaring, kaki lurus, kedua tangan berada di samping badan. Angkat kedua kaki dalam posisi lurus sampai 90 derajat kemudian turunkan kembali secara perlahan. Perhatikan napas saat mengangkat dan menurunkan kaki. Gerakan diulangi sebanyak 8 (delapan) kali.
Hari kesepuluh
Posisi tidur telentang dengan kaki lurus, kedua telapak tangan diletakkan dibelakang kepala, kemudian bangun sampai posisi duduk lalu tidur kembali secara perlahan-lahan jangan memaksakan. Kekuatan bertumpu pada perut, jangan gunakan kedua telapak tangan untuk mendorong tubuh ke posisi duduk sebab berisiko terjadi nyeri pada leher. Gerakan diulangi sebanyak 8 (delapan) kali.
4.  Gizi
Setelah melahirkan ibu yang menyusui membutuhkan tambahan 500 kalori setiap hari. Nutrisi yang dianjurkan meliputi:
a.   Buah-buahan dan sayuran hijau. Ibu membutuhkan 3 porsi sayuran hijau dan buah-buahan perhari. Porsi tersebut dapat dibagi menjadi 3 kali makan yaitu 1 porsi dipagi hari, 1 porsi disiang hari, 1 porsi disore/malam hari. Ibu dapat memilih makanan yang setara dengan 1 porsi yaitu 1/8  semangka; ¼ mangga; ¾ brokoli; ½ wortel; ¼- ½ sayuran hijau yang telah dimasak atau 1 tomat.
b.   Makanan yang mengandung protein. Protein yang dibutuhkan ibu setelah melahirkan yaitu sekitar 3 porsi. Satu porsi protein setara dengan 3 gelas susu; 2 butir telur; 120 gram keju; 1 gelas yogurt; 120-140 gram ikan/daging/ayam; 200-240 gram tahu; 5-6 sendok selai kacang. Ibu dapat memilih salah satu dari porsi yang tersedia untuk melengkapi makanan yang akan dikonsumsi.
c.   Vitamin dan mineral. Setelah melahirkan ibu dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi. Zat besi dapat diperoleh dari daging, hati, sereal, dll. Apabila perlu, ibu dapat mengonsumsi pil zat besi selama 40 hari setelah melahirkan untuk menambah zat gizi dan kapsul vitamin A (200.000 unit) yang dapat diberikan pada bayi melalui ASI.
Untuk membantu penyerapan zat besi yang baik terutama dari kelompok nabati seperti bayam, ibu perlu mengonsumsi vitamin C seperti buah jeruk, kiwi, strawberi, melon, tomat yang dapat dikonsumsi secara bersamaan. Selain itu, ibu juga membutuhkan asam folat yang juga diperlukan untuk bayinya. Asam folat dapat diperoleh dari sayuran hijau seperti bayam, sawi, selada, dll.
d.   Kalsium dan vitamin D. Setelah melahirkan ibu membutuhkan kalsium dan vitamin D untuk pembentukan tulang. Kalsium dan vitamin D dapat diperoleh dari susu yang rendah kalori/ berjemur dipagi hari. Pada masa menyusui ibu membutuhkan kalsium sebanyak 5 porsi sehari. Ibu dapat memilih 1 porsi untuk tiap kali makan yang setara dengan 1 cangkir susu; 160 gram ikan salmon; 120 gram ikan sarden/ 280 gram tahu.
e.   Makanan yang mengandung zinc untuk penyambuhan luka dan pertumbuhan. Makanan yang mengandung zinc yaitu daging, telur, dan gandum. Tiap hari ibu membutuhkan 12 mg.
f.   Cairan. Pada masa nifas ibu membutuhkan 3 liter (12 gelas) air per hari. Ibu dapat minum air putih, jus, atau susu. Untuk mengetahui kecukupan cairan yang diminum, ibu dpat melihat dari air seni. Apabila air seni berwarna kuning gelap, berarti ibu kekurangan cairan dan perlu untuk minum yang lebih banyak. Apabila air seni berwarna jernih, berarti kebutuhan cairan ibu sudah terpenuhi/cukup.

5.  Perawatan payudara
Perawatan payudara setelah melahirkan meliputi:
a.  Teknik menyusui
Ibu perlu mengetahui tanda-tanda bayi lapar dan membutuhkan ASI meliputi:
 1. Bayi akan membuka mulut apabila mulut bayi disentuh.
 2. Bayi memasukkan tangan ke mulut
 3. Bayi menangis, yang merupakan tanda bayi lapar lebih lanjut.

a. Sebelum mulai menyusui, sebaiknya ibu cuci tangan terlebih dahulu dan oleskan sedikit ASI disekitar puting ibu.
b.  Ibu mengetahui posisi ideal puting susu dalam mulut bayi.
c. Ibu perlu memperhatikan tanda-tanda perlekatan yang baik meliputi:
a.  Areola yang terlihat di atas mulut bayi lebih luas ketimbang di bawah.
b.  Mulut bayi terbuka lebar
c.  Bibir bawah bayi terlipat keluar
d.  Dagu bayi menempel ke payudara ibu
e.  Pipi bayi terlihat membulat
d. Bayi akan menyusu efektif dengan tanda-tanda sebagai berikut:
a.  Bayi melakukan isapan lambat dan dalam,
b.  Berhenti sebentar dan menunggu sampai saluran ASI mengisi lagi
c.  Bayi melakukan beberapa isapan yang cepat untuk memerah ASI
d.  Ketika ASI mengalir, isapannya menjadi lebih dalam dan lebih lambat lagi serta terdengar suara bayi menelan dan terlihat pipi membulat.
e. Bayi akan mengakhiri sendiri kegiatan dalam meyusu. Bayi akan melepaskan sendiri payudara, tampak puas dan mengantuk. Hal tersebut menunjukkan bayi sudah mendapatkan semua kebutuhan dari satu payudara. Bayi mungkin ingin menyusu atau tidak menyusu pada payudara yang satunya.

Posisi menyusui
1.  Gendong bayi dengan seluruh tubunhya menghadap ke ibu,
2.  Posisi hidung dan dagu bayi menghadap ke payudara ibu,
3.  Tahan kepala, leher, dan punggung bayi dengan tangan ibu,
4. Bayi sebaiknya mengangkupkan seluruh bagian puting dan areola (bagian hitam di sekitar puting) masuk ke dalam mulutnya.
b. Perawatan payudara
Pengurutan Pertama
Licinkan kedua telapak tangan dengan minyak.Tempatkan kedua telapak tangan diantara kedua payudara. Lakukan pengurutan dimulai dari tengah, atas, kesamping, dan kebawah. Selanjutnya urut ke arah depan puting, lalu kedua tangan dilepas dari payudara. Ulangi gerakan 20-30 kali.

Pengurutan kedua
Sokong payudara kiri dengan tangan kiri, 2 atau 3 jari tangan kanan membuat gerakan memutar sambil menekan mulai dari pangkal payudara dan berakhir pada puting payudara kanan. Lakukan 2x gerakan setiap payudara.

Pengurutan ketiga
Sokong payudara dengan satu tangan, sedangkan tangan lain mengurut payudara dengan sisi kelingking dari arah tepi ke arah puting susu. Lakukan gerakan ini 30 kali.

Pengompresan
Kompres kedua payudara dengan washlap hangat selama 2 menit, lalu ganti dengan washlap dingin selama 1 menit. Kompres bergantian selama 3 kali berturut-turut dan diakhiri dengan kompres hangat. Pengosongan ASI dilakukan untuk mencegah pembendungan ASI.

c.  Perawatan puting susu
  Kompres kedua puting susu dengan kapas yang telah dibasahi dengan minyak selama 5 menit agar kotoran mudah diangkat.
  Jika puting susu normal lakukan perawatan berikut: oleskan minyak pada ibu jari dan telunjuk, lalu letakkan keduanya pada puting susu. Lakukan gerakan memutar ke arah dalam sebanyak 30 kali putaran untuk kedua puting susu. Gerakan ini untuk meningkatkan elastisitas otot puting susu.

 Jika puting susu datar atau masuk ke dalam:
Letakkan kedua ibu jari di sebelah kiri dan kanan puting susu. Kemudian tekan dan hentakkan ke arah luar menjauhi puting susu secara perlahan.
Letakkan kedua ibu jari di atas dan di bawah puting susu, lalu tekan dan hentakkan ke arah luar menjauhi puting susu secara perlahan.

d.  Pijat oksitosin
Pijat oksitosin dilakukan pada ibu untuk meningkatkan kenyamanan, meningkatkan gerakan ASI ke payudara, menambah pengisian ASI ke payudara, dan melancarkan pengeluaran ASI.
Pada saat melakukan pijat oksitosin ibu memerlukan minyak kelapa, handuk, meja dan kursi. Langkah-langkah untuk melakukan pijat oksitosin sebagai berikut:
1)  Sebelum melakukan pemijatan, perawat atau pemberi pijatan (bisa dari anggota keluarga) mencuci tangan terlebih dahulu. Ibu membuka baju dan melepas pengikat atau kutang.
2)  Langkah selanjutnya yaitu menstimulasi puting susu dengan cara menarik dan memutar puting susu secara pelan-pelan dengan jari dilanjutkan mengurut/mengusap payudara dengan tekanan ringan menggunakan ibu jari.
3)  Langkah berikutnya, ibu duduk dengan kaki menapak pada lantai (apabila kaki tidak dapat menapak lantai, bisa diberikan kursi atau barang lainnya yang membuat kaki  tidak menggantung), ibu bersandar ke depan dengan lengan ditekuk dan diletakkan di atas meja, kepala di atas lengan, posisi payudara ibu menggantung. Handuk diletakkan pada pangkuan ibu.
4)  Posisi pemijat yaitu berada dibelakang ibu, posisi tangan mengepal kecuali ibu jari.
5)  Lakukan pijat dengan kedua ibu jari pada punggung ibu sejajar dengan tulang belakang dengan membentuk lingkaran kecil yang dimulai dari leher di kedua sisi tulang belakang kanan dan kiri sampai ke arah tulang belikat (punuk).
6)  Pemijatan tersebut dilakukan 2-3 menit minimal 2 kali sehari.

6.  Senggama
Setelah melahirkan ibu mengalami kelelahan, gambaran diri yang buruk, dan mengeluarkan darah yang akan berhenti pada minggu ke-2 hingga minggu ke-4 setelah melahirkan. Ketertarikan ibu terhadap hubungan seksual lebih sedikit dibandingkan suami. Hal tersebut disebabkan hormon yang rendah, penyesuaian terhadap peran, maupun kelelahan akibat kurang tidur dan istirahat.

Waktu memulai hubungan seksual
Pasangan suami istri dianjurkan untuk melakukan hubungan seksual ketika darah yang keluar pada ibu (lokia) sudah berhenti, jalan lahir sudah sembuh, dan ibu merasa tidak sakit untuk melakukan hubungan seksual. Apabila hubungan seksual menyebabkan rasa tidak nyaman pada salah satu pihak, pasangan suami istri harus menunggu lebih lama untuk memulai hubungan seksual atau menggantikan dengan aktivitas lain tanpa hubungan suami istri seperti mencium atau memeluk.

Posisi hubungan suami istri yang nyaman dan memungkinkan
Posisi yang dinjurkan untuk hubungan seksual setelah melahirkan untuk menghindari penekanan penis yang terlalu keras yaitu posisi ibu di atas (female superior) atau bersebelahan (side-by-side). Hal tersebut membuat ibu dapat mengontrol kedalaman penis dan membuat ibu nyaman. Selama orgasme ASI dapat keluar yang disebabkan pelepasan hormon oksitosin. Apabila hal tersebut membuat ibu merasa tidak nyaman, ibu dapat mengantisipasi dengan menyusui terlebih dahulu sebelum melakukan hubungan seksual.

7.  Keluarga Berencana (KB)
Penggunaan metode KB dilakukan pada ibu masa nifas sekurang-kurangnya 2 tahun sebelum ibu hamil kembali. Penggunaan metode KB dilakukan dengan mempertimbangkan efektivitas metode dalam mencegah kehamilan, kelebihan dan kekurangan metode tersebut, efek samping, cara menggunakan metode tersebut, serta indikasi pemakaian metode tersebut. Sebelum melakukan kontrasepsi suami istri perlu mendiskusikan metode kontrasepsi yang sesuai dan disepakati.
Pada masa nifas, metode terbaik yang dapat digunakan yaitu kondom yang ditambahkan lubrikasi (pemberian jel) pada vagina karena pada masa tersebut vagina ibu masih relatif “kering”.
Ibu yang menyusui pada masa nifas disarankan untuk tidak melakukan hubungan seksual sampai metode kontrasepsi yang tepat dan benar-benar aman digunakan. Hal tersebut dimaksudkan supaya tidak mengganggu jumlah maupun kualitas ASI.

Metode kontrasepsi yang berkaitan dengan menyusui antara lain:
a.  Natural family planning atau keluarga berencana alamiah. Keluarga berencana alamiah adalah pengendalian kehamilan dengan cara alami tidak menggunakan alat, kimia, maupun obat-obatan. Keluarga berencana alami dapat dilakukan bersamaan dengan metode lain seperti metode penghalang (tidak melakukan hubungan seksual suami istri).
b.  Kondom
Pada saat menyusui, penggunaan kondom dianjurkan karena relatif aman digunakan dan tidak mempengaruhi proses menyusui/laktasi maupun perkembangan bayi.
c.  Pil
Pil yang dianjurkan untuk ibu menyusui yaitu pil yang mengandung progestin yang digunakan setelah 6 minggu melahirkan untuk meminimalkan pendarahan yang tidak teratur dan menghindarkan bayi terpapar dari hormon luar pada saat enzim hati pada bayi masih dalam proses pematangan. Yang perlu diperhatikan ibu menyusui yaitu pil kombunasi yang mengandung estrogen dan progesteron tidak boleh digunakan selama menyusui karena dapat mengurangi produksi ASI dan mengubah kandungan ASI.
d.  Suntik
Ibu dapat melakukan kontrasepsi suntik setelah 6 minggu melahirkan. Hal tersebut dimaksudkan untuk meminimalkan pendarahan dan memberikan kesempatan pada enzim bayi untuk berkembang dengan sempurna.
e.  IUD
Ibu dengan persalinan normal dapat melakukan pemasangan IUD setelah 6 minggu melahirkan, pada ibu dengan persalinan melalui operasi sesar dapat melakukan pemasangan IUD sekrang-kurangnya setelah 6-8 minggu untuk mengurangi risiko terlepasnya IUD.

B.  TANDA BAHAYA MASA NIFAS
1.  Pendarahan
Pendarahan masa nifas adalah pendarahan yang melebihi 500 ml setelah bayi lahir yang ditandai dengan keadaan lemah, limbung, keringat, dingin, menggigil, hiperpnea, sisitolik < 90 mmHg, nadi > 100 x permenit, Hb < 8 g %.

Cara mengukur pendarahan yang keluar dari vagina
a.  Apabila pada pembalut ibu terdapat darah kira-kira sepanjang 5 cm, darah yang keluar sama dengan 10 ml;
b.  Apabila pada pembalut terdapat darah kira-kira sepanjang 10 cm darah, darah yang keluar sama dengan 10-25 ml;
c.  Apabila pada pembalut terdapat darah kira-kira sepanjang 15 cm darah, berarti darah yang keluar sama dengan 25-50 ml;
d.  Apabila pada pembalut terdapat darah kira-kira sepanjang 20 cm darah, darah yang keluar sama dengan 50-80 ml.




Referensi
Association of Reproductive Health Professionals. (2006). Postpartum counseling. Diambil dari www.arhp.com pada tanggal 7 September 2012
Bonyata, K. (2011). Exercise and breastfeeding. Diambil dari www.kellymom.com pada tanggal 7 September 2012
Hapsari, E.D. (2008). Seputar metode kontrasepsi
RSIA Bunda Arif. (2011). Senam pasca persalinan pada masa nifas. Purwokerto: Kesehatan Ibu
Saifuddin. (2002). Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

WHO. (2011). Pelatihan konseling menyusui. UNICEF
02.45 Diposting oleh Unknown 0