yukk Belajar Pertolongan Pertama
1. Pengertian
Dasar Pertolongan Pertama adalah pemberian pertolongan
yang bersifat segera kepada penderita sakit
atau korban kecelakaan yang memerlukan penanganan medis dasar untuk mencegah cacat atau maut.
2. Tujuan Pertolongan Pertama
diingat yaaaa....kalo kita tau tujuan nanti kita akan tau tindakan yang harus deiberikan,,,,so let's check it out
a. Mencegah kematian
maksudnya ni temen2... kalo kita menemukan korban dengan pendarahan, kalo kita tangani dengan cepaat dan tepat maka akan mencegah kehilangan darah yang banyak. (klo kehilangan darah yang banyak bisa dibayangkan kan pasokan oksigen juga akan berkurang nahhh lama-lama otak gaga berfungsi, kalo otak gag berfungsi lama kelamaan jaringn2 juga akan mati)
b. Mencegah kecacatan lebih lanjut
kenapa bisa?? jadi gini teman2.. kalo kita ketemu korban dengan patah tulang..kalo kita melakukan tindakan yang tepat seperti membidai nanti akan mengurangi gerak si korban atau kalo diistilah medis namanya di imobilisasi, karena gerak yang berlebihan pada patah tulang akan menyebabkan nyeri dan cacat lebih lanjut.
c. Mencegah terjadinya infeksi
infeksi? sudah tau kan temen2 infeksi itu apa?? bisa dibayangkan ya?hehe
kita misalkan saja ya temen2 kalo ada korban dengan luka, kita biarkan,, apa yang terjadi?? hwaa..debu, kotoran, kerikil, bisa masuk kan? trus kalo udah masuk kuman itu senang banget bersahabat dengan luka yang ga dibersihkan secara yah ketemu dengan temannya yaitu si kuman juga hihihhihi..trus kalo uda klop tuh,,lama2 bersekongkol jadi cairan kekuningan tuh (nanah), kalo udah kaya gitu tuh merugikan penderitanya juga loh,,kadang tiba2 menggigil, panas dingin, dan lain2.
nahh,, jadi di sini kalo kita ketemu korban dengan luka segeralah kita bersihkan pke NaCl atau air yang mengalir, berikan iodin (sedikit aja), trus dibalut dehh biar kuman, kotoran, kerikil dan lain2 ga bisa masuk.
d. Mengurangi rasa sakit
tentunya dong... bayangkan aja kalo ada yang luka terus didiemin aja,,kebayang kan sakitnya? coba kalo kita bersihkan, rawat, hmm lama kelamaan lukanya kering dan ga sakit dehhhh...
e. Memberi rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan gini nih temen2 maksudnya misal ada orang yang terkilir trus kita kasih tidakan pertolongan dengan tepat, emm kan ada tuh yang singkatan RICE, istirahatkan, kompres pake es, dan tinggikan, nanti si korban akan merasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan juga sebelum dibawa ke dokter.
f. Mengusahakan perawatan serta pengobatan yang layak.
gini ni temen2,, bayangkan yahh kalo ketemu korban di hutan belantara trus akses jalannya susah.. nah disitulah tujuan pertolongan pertama untuk memberikan perawatan yang layak, kalo ada luka ya ditanagni lukanya, kalo ada patah tulang ditangani patah tulangnya. pengobatan yang lebih layak maksudnya emm dalam pertolongan kita juga menghubungi pihak terkait, misalnya ambulans, atau SAR kalo kisal ada di hutan...
Sampai sini sudah pada ngerti kan yah teman2...
lanjut yuuukk
Penilaian
Sebelum melakukan pertolongan kita lebih lanjut, kita
lakukan penilaian terlebih dahulu.
Penilaian adalah tindakan mengenali masalah yang terjadi
baik terhadap pendeita maupun situasi dan kondisi secara keseluruhan.
Mengapa penilaian perlu dilakukan??
1.
Penolong
dituntut untuk betindak tepat dan cepat.
2.
Penilaian
adalah dasar dalam menentukan tindakan pertolongan yang akan dilakukan.
3.
Penilaian
yang cermat membuat pertolongan dapat dilakukan sebaik-baiknya.
Tindakan
penilaian meliputi:
1.
Penilaian
keadaan
2.
Pemeriksaan
dini
3.
Pemeriksaan
fisik
4.
Posisi
pemulihan
5.
Riwayat
penderita
6.
Pemeriksaan
berkala atau lanjut
7.
Pelaporan
Untuk
lebih jelasnya kita bahas satu persatu yukkk
1.
Penilaian
keadaan
Dalam penilaian keadaan ini kita
menganalisa bagaimana kondisi saat itu, kemungkinan yang akan terjadi, dan
bagaimana mengatasinya. Nah, yang perlu diingat dalam melakukan pertolongan
pertama adalah keselamatan penolong adalah yang pertama. Jadi, sebelum
menolong, penolong mengamankan dirinya terlebih dahulu.
2.
Pemeriksaan
dini
Pemerriksaan dini meliputi:
a. Danger
Yang
dimaksud dengan danger yaitu kemanan. Kemanan meliputi: keamanan penolonh,
keamanan tempat kejadian, keamanan korban , serta keamanan orang-orang di
sekitar korban.
b. Respon
Cek
respon korban. Cek respon meliputi 4 tingkatan yaitu:
1. Awas. Bisa dicek dengan
membayan-bayangi mata. Apabila korban berespon berarti korban berada dalam
respon awas. Apabila tidak ada respon awas dilakjutkan pengecekan ke respon
berikutnya.
2. Suara. Bisa dipanggil namanya dan
disentuh. Apabila tidak ada respon suara dilanjutkan ke pengecekan respon
berikutnya.
3. Nyeri. Bisa dengan menekan bagian
yang apabila dicubit terasa nyeri. Misalnya di alis mata. Apabila masih tidak
ada respon maka kita lanjutkan ke
tingkatan respon selanjutnya.
4. Tidak ada respon. Kalau korban
dilakukan ketiga respon di atas tetap tidak menunjukkan respon, maka korban
berada dalam tingkatan tidak ada respon.
Apabila bertemu dengan
korban dengan tingkat respon tidak ada respon hal yang dapat dilakukan yaitu
mengecek napas dan nadi. Pengecekan
napas dilakukan secara simultan dan cepat. Apabila tidak ditemukan
napas/gasping langsung meminta pertolongan orang sekitar, menelpon ambulance
atau menyuruh orang memanggil bantuan. Hal tersebut sesuai terdapat pada AHA
2010 yaitu “meminta pertolongan orang di sekitar, menelpon ambulance, ataupun
menyuruh orang untuk memanggil bantuan tetap menjadi prioritas, akan tetapi
sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan kesadaran dan ada tidaknya henti nafas
(terlihat tidak ada nafas/ gasping) secara simultan dan cepat”. Lalu dilakukan
pengecekan nadi. Pengecekan nadi dilakukan pada nadi karotis atau di leher
dengan cara tiga jari diletakkan di atas jakun lalu ditarik ke samping.
Pemeriksaan dilakukan di nadi karotis disebabkan oleh vena tersebut paling
dekat letaknya dengan jantung sehingga nadi yang teraba keras. Pengecekan nadi
dilakukan sekitar 10 detik, dalam pengecekan nadi ada 3 kemungkinan yaitu: ada
nadi, ragu-ragu (antara ada dan tidak ada), serta tidak ada nadi. Apabila
ragu-ragu dan tidak ada nadi serta ditemukan tidak ada napas/gasping langsung
lakukan tahap selanjutnya yaitu chest compression.
c. Circulation (Chest Compression)
Chest compresion
merupakan tahap yang dilakukan pertama kali dari RJP. Resusitasi jantung paru
(RJP) adalah suatu kombinasi antara pijatan jantung dari luar dengan pernapasan
buatan yang dilakukan pada saat seseorang mengalami henti napas dan henti
jantung. RJP dilakukan karena jantung yang bertugas untuk memompa darah yang
mengandung oksigen ke seluruh tubuh berhenti memompa sehingga perlu dilakukan
pompa/pijat jantung luar secara manual. Kombinasi dengan bantuan napas karena
pada saat henti napas perlu dilakukan napas buatan secara manual untuk
mensuplai oksigen ke sel otak yang merupakan pusat kehidupan manusia. Akan
tetapi sebelum melakukan RJP dilakuakan dulu kontrol pendarahan besar.
RJP
sesuai dengan rekomendasi AHA terbaru yaitu pemberian kompresi dada
(Compression), airway (jalan napas), breathing (bantuan napas). Rekomendasi
tersebut berlaku bagi orang dewasa, anak, dan bayi. Rekomendasi tersebut tidak
berlaku pada neonatus. RJP dilakukan dengan perbandingan 30:2, dilakukan selama
5 siklus. Terdapat juga syarat penghentian RJP yaitu: penghentian dilakukan
apabila penolong lelah, korban sadar, tim medis telah datang, dan terdapat
keyakinan bahwa korban sudah meninggal.
Pada
tahap chest compression, penekanan dilakukan diantara puting susu dengan
kedalaman setidaknya 2 inchi (5 cm) pada dada. Kecepatan untuk pemberian
kompresi yaitu minimal 100 kali permenit (2 detik 3 kompresi). Posisi penolong
sejajar dengan bahu korban, tangan penolong tegak lurus. Setelah dilakukan
kompresi sebayak 30 kompresi yang dilakukan ialah memasang collar neck atau
bisa dengan modifikasi dari sandal yang dibalut dengan mitela. Hal tersebut
dimaksudkan untuk mencegah keparahan cedera servikal apabila terjadi cedera
sebelum ke tahap selanjutnya yaitu membuka jalan napas (airway). Dimana bagian
leher merupakan bagian penting yang harus dilindungi karena terdapat
hipotalamus dan bagian-bagian tubuh penting untuk menyalurkan oksigen ke otak.
Apabila telah terpasang langsung masuk ke tahap selanjutnya yaitu airway (jalan
napas).
d. Airway (jalan napas)
Hal
yang dilakukan yaitu membuka jalan napas untuk menghilangkan sumbatan apabila
terdapat sumbatan. Sumbatan dapat berupa sumbatan parsial maupun sumbatan
total. Biasanya penyebab utamanya yaitu lidah dan benda asing. Teknik membuka
ada 2 yaitu: angkat dagu tekan dahi dan jaw thrust maneuver. Untuk penolong
pertama hal yang boleh dilakukan yaitu angkat dagu tekan dahi. Untuk jaw thrust
maneuver hanya boleh dilakukan oleh penolong yang benar-benar terlatih atau tim
medis yang terlatih. Apabila terdapat sumbatan, bisa dilakukan pembersihan
dengan teknik finger sweep (sapuan jari). Teknik tersebut tidak boleh dilakukan
pada bayi dan anak kecil, kecuali apabila benda asingnya sudah terlihat di
mulut.
Untuk
membersihakan napas pada orang dewasa bisa dengan Manuver
Heimlich yaitu upaya
membebaskan jalan napas karena tersumbat benda asing, berupa:
1.
Hentakan Perut
(abdominal thrust) pd. penderita dewasa ada respon.
2.
Hentakan
dada (Chest Thrust)
pada penderita dewasa ada respon yang gemuk & ibu hamil.
3. Hentakan Dada / hentakan perut pada penderita
dewasa tidak ada respon.
Apabila jalan napas telah bersih,
langsung masuk ke tahap selanjutnya yaitu Breathing (bantuan napas).
e. Breathing (bantuan napas)
Teknik
memberikan bantuan napas buatan
1.
Melalui
mulut penolong menggunakan masker
RJP/APD atau secara langsung ke hidung/mulut penderita.
2. Menggunakan alat bantu berupa masker
berkatup (BVM)
Frekuensi
pemberian napas buatan :
Dewasa :
10-12 x/mnt (1,5
-2 dtk/napas)
Anak (1-8th): 20 x/mnt (1-1,5 dtk/napas)
Bayi (0-1th) :
> 20 x/mnt
(1-1,5 dtk/napas)
Bayi (BBL) : 40
x/mnt (1-1,5
dtk/napas)
Apabila
nadi dan napas telah ada, tetap awasi dan pertahankan jalan napas. Lanjutkan ke
tahap selnjutnya yaitu pemeriksaan fisik.
3.
Pemeriksaan
fisik
Penilaian dini harus diselesaikan
terlebih dahulu dan keadaan yang mengancam nyawa harus sudah ditanggulangi
sebelum melanjutkan ke pemeriksaan selanjutnya yaitu pemeriksaan fisik. Pada
pemeriksaan fisik hal yang dapat dilakukan yaitu mengenai:
Perubahan bentuk - (Deformities)
Luka Terbuka - (Open Injuries)
Nyeri -
(Tenderness)
Bengkak - (Swelling)
4.
Posisi
pemulihan
Setelah dilakukan pertolongan, koban
dibaringkan dalam posisi pemulihan apabila ditinggalkan tanpa ada orang.
Caranya yaitu: tangan koban diletakkan dipipi, kaki korban yang berlawanan
dengan posisi penolong ditekuk, tubuh korban dihadapkan ke posisi penolong.
5.
Riwayat
penderita
Hal yang dapat dilakukan ialah
menanyakan riwayat penderita meliputi:
K = Keluhan Utama (gejala dan tanda)
O = Obat-obatan yang diminum
M =Makanan/minuman terakhir
P = Penyakit yang diderita
A = Alergi yang dialami
K = Kejadian.
6.
Pemeriksaan
berkala atau lanjut
Lakukan pemeriksaan berkala, sesuai
dengan berat ringannya kasus yang kita hadapi.
Pada kasus yang dianggap berat à lakukan pemeriksaan
berkala setiap 5 menit
Pada kasus yang ringan à
dapat dilakukan setiap 15 menit sekali.
7.
Pelaporan
dan serah terima
Serah terima dilakukan di lokasi,
yaitu saat tim bantuan datang ke lokasi, atau penolong yang mendatangi fasilitas kesehatan
Referensi:
American
Heart Association (AHA)., 2010. Pedoman Cardiopulmonary Resucitation (CPR) Perawatan Darurat Kardiovaskular. Jurnal
Circulation
Divisi PEPER UKESMA UGM
0 komentar: