TOP NEWS

Sabtu, 06 Oktober 2012

yukk Belajar Pertolongan Pertama

penjagaan @Balairung

sebelum masuk terlalu jauh,, kita ketahui dulu dasarnya yukk

1. Pengertian 
Dasar Pertolongan Pertama adalah pemberian pertolongan yang bersifat segera kepada penderita sakit atau korban kecelakaan yang memerlukan penanganan medis dasar untuk mencegah cacat atau maut.
2. Tujuan Pertolongan Pertama
diingat yaaaa....kalo kita tau tujuan nanti kita akan tau tindakan yang harus deiberikan,,,,so let's check it out
a. Mencegah kematian
maksudnya ni temen2... kalo kita menemukan korban dengan pendarahan, kalo kita tangani dengan cepaat dan tepat maka akan mencegah kehilangan darah yang banyak. (klo kehilangan darah yang banyak bisa dibayangkan kan pasokan oksigen juga akan berkurang nahhh lama-lama otak gaga berfungsi, kalo otak gag berfungsi lama kelamaan jaringn2 juga akan mati)

b. Mencegah kecacatan lebih lanjut
kenapa bisa?? jadi gini teman2.. kalo kita ketemu korban dengan patah tulang..kalo kita melakukan tindakan yang tepat seperti membidai nanti akan mengurangi gerak si korban atau kalo diistilah medis namanya di imobilisasi, karena gerak yang berlebihan pada patah tulang akan menyebabkan nyeri dan cacat lebih lanjut. 

c. Mencegah terjadinya infeksi
infeksi? sudah tau kan temen2 infeksi itu apa?? bisa dibayangkan ya?hehe
kita misalkan saja ya temen2 kalo ada korban dengan luka, kita biarkan,, apa yang terjadi?? hwaa..debu, kotoran, kerikil, bisa masuk kan? trus kalo udah masuk kuman itu senang banget bersahabat dengan luka yang ga dibersihkan secara yah ketemu dengan temannya yaitu si kuman juga hihihhihi..trus kalo uda klop tuh,,lama2 bersekongkol jadi cairan kekuningan tuh (nanah), kalo udah kaya gitu tuh merugikan penderitanya juga loh,,kadang tiba2 menggigil, panas dingin, dan lain2.
nahh,, jadi di sini kalo kita ketemu korban dengan luka segeralah kita bersihkan pke NaCl atau air yang mengalir, berikan iodin (sedikit aja), trus dibalut dehh biar kuman, kotoran, kerikil dan lain2 ga bisa masuk. 

d. Mengurangi rasa sakit
 tentunya dong... bayangkan aja kalo ada yang luka terus didiemin aja,,kebayang kan sakitnya? coba kalo kita bersihkan, rawat, hmm lama kelamaan lukanya kering dan ga sakit dehhhh... 

e. Memberi rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan gini nih temen2 maksudnya misal ada orang yang terkilir trus kita kasih tidakan pertolongan dengan tepat, emm kan ada tuh yang singkatan RICE, istirahatkan, kompres pake es, dan tinggikan, nanti si korban akan merasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan juga sebelum dibawa ke dokter.

f. Mengusahakan perawatan serta pengobatan yang layak.
gini ni temen2,, bayangkan yahh kalo ketemu korban di hutan belantara trus akses jalannya susah.. nah disitulah tujuan pertolongan pertama untuk memberikan perawatan yang layak, kalo ada luka ya ditanagni lukanya, kalo ada patah tulang ditangani patah tulangnya. pengobatan yang lebih layak maksudnya emm dalam pertolongan kita juga menghubungi pihak terkait, misalnya ambulans, atau SAR kalo kisal ada di hutan...

Sampai sini sudah pada ngerti kan yah teman2...
lanjut yuuukk


Penilaian
Sebelum melakukan pertolongan kita lebih lanjut, kita lakukan penilaian terlebih dahulu.
Penilaian adalah tindakan mengenali masalah yang terjadi baik terhadap pendeita maupun situasi dan kondisi secara keseluruhan.
Mengapa penilaian perlu dilakukan??
1.       Penolong dituntut untuk betindak tepat dan cepat.
2.      Penilaian adalah dasar dalam menentukan tindakan pertolongan yang akan dilakukan.
3.       Penilaian yang cermat membuat pertolongan dapat dilakukan sebaik-baiknya.
Tindakan penilaian meliputi:
1.       Penilaian keadaan
2.      Pemeriksaan dini
3.       Pemeriksaan fisik
4.      Posisi pemulihan
5.       Riwayat penderita
6.      Pemeriksaan berkala atau lanjut
7.       Pelaporan
Untuk lebih jelasnya kita bahas satu persatu yukkk
1.       Penilaian keadaan
Dalam penilaian keadaan ini kita menganalisa bagaimana kondisi saat itu, kemungkinan yang akan terjadi, dan bagaimana mengatasinya. Nah, yang perlu diingat dalam melakukan pertolongan pertama adalah keselamatan penolong adalah yang pertama. Jadi, sebelum menolong, penolong mengamankan dirinya terlebih dahulu.
2.      Pemeriksaan dini
Pemerriksaan dini meliputi:
a.       Danger
Yang dimaksud dengan danger yaitu kemanan. Kemanan meliputi: keamanan penolonh, keamanan tempat kejadian, keamanan korban , serta keamanan orang-orang di sekitar korban.
b.      Respon
Cek respon korban. Cek respon meliputi 4 tingkatan yaitu:
1.       Awas. Bisa dicek dengan membayan-bayangi mata. Apabila korban berespon berarti korban berada dalam respon awas. Apabila tidak ada respon awas dilakjutkan pengecekan ke respon berikutnya.
2.      Suara. Bisa dipanggil namanya dan disentuh. Apabila tidak ada respon suara dilanjutkan ke pengecekan respon berikutnya.
3.       Nyeri. Bisa dengan menekan bagian yang apabila dicubit terasa nyeri. Misalnya di alis mata. Apabila masih tidak ada respon  maka kita lanjutkan ke tingkatan respon selanjutnya.
4.      Tidak ada respon. Kalau korban dilakukan ketiga respon di atas tetap tidak menunjukkan respon, maka korban berada dalam tingkatan tidak ada respon.
Apabila bertemu dengan korban dengan tingkat respon tidak ada respon hal yang dapat dilakukan yaitu mengecek napas dan nadi.  Pengecekan napas dilakukan secara simultan dan cepat. Apabila tidak ditemukan napas/gasping langsung meminta pertolongan orang sekitar, menelpon ambulance atau menyuruh orang memanggil bantuan. Hal tersebut sesuai terdapat pada AHA 2010 yaitu “meminta pertolongan orang di sekitar, menelpon ambulance, ataupun menyuruh orang untuk memanggil bantuan tetap menjadi prioritas, akan tetapi sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan kesadaran dan ada tidaknya henti nafas (terlihat tidak ada nafas/ gasping) secara simultan dan cepat”. Lalu dilakukan pengecekan nadi. Pengecekan nadi dilakukan pada nadi karotis atau di leher dengan cara tiga jari diletakkan di atas jakun lalu ditarik ke samping. Pemeriksaan dilakukan di nadi karotis disebabkan oleh vena tersebut paling dekat letaknya dengan jantung sehingga nadi yang teraba keras. Pengecekan nadi dilakukan sekitar 10 detik, dalam pengecekan nadi ada 3 kemungkinan yaitu: ada nadi, ragu-ragu (antara ada dan tidak ada), serta tidak ada nadi. Apabila ragu-ragu dan tidak ada nadi serta ditemukan tidak ada napas/gasping langsung lakukan tahap selanjutnya yaitu chest compression.
c.       Circulation (Chest Compression)
Chest compresion merupakan tahap yang dilakukan pertama kali dari RJP. Resusitasi jantung paru (RJP) adalah suatu kombinasi antara pijatan jantung dari luar dengan pernapasan buatan yang dilakukan pada saat seseorang mengalami henti napas dan henti jantung. RJP dilakukan karena jantung yang bertugas untuk memompa darah yang mengandung oksigen ke seluruh tubuh berhenti memompa sehingga perlu dilakukan pompa/pijat jantung luar secara manual. Kombinasi dengan bantuan napas karena pada saat henti napas perlu dilakukan napas buatan secara manual untuk mensuplai oksigen ke sel otak yang merupakan pusat kehidupan manusia. Akan tetapi sebelum melakukan RJP dilakuakan dulu kontrol pendarahan besar.
RJP sesuai dengan rekomendasi AHA terbaru yaitu pemberian kompresi dada (Compression), airway (jalan napas), breathing (bantuan napas). Rekomendasi tersebut berlaku bagi orang dewasa, anak, dan bayi. Rekomendasi tersebut tidak berlaku pada neonatus. RJP dilakukan dengan perbandingan 30:2, dilakukan selama 5 siklus. Terdapat juga syarat penghentian RJP yaitu: penghentian dilakukan apabila penolong lelah, korban sadar, tim medis telah datang, dan terdapat keyakinan bahwa korban sudah meninggal.
Pada tahap chest compression, penekanan dilakukan diantara puting susu dengan kedalaman setidaknya 2 inchi (5 cm) pada dada. Kecepatan untuk pemberian kompresi yaitu minimal 100 kali permenit (2 detik 3 kompresi). Posisi penolong sejajar dengan bahu korban, tangan penolong tegak lurus. Setelah dilakukan kompresi sebayak 30 kompresi yang dilakukan ialah memasang collar neck atau bisa dengan modifikasi dari sandal yang dibalut dengan mitela. Hal tersebut dimaksudkan untuk mencegah keparahan cedera servikal apabila terjadi cedera sebelum ke tahap selanjutnya yaitu membuka jalan napas (airway). Dimana bagian leher merupakan bagian penting yang harus dilindungi karena terdapat hipotalamus dan bagian-bagian tubuh penting untuk menyalurkan oksigen ke otak. Apabila telah terpasang langsung masuk ke tahap selanjutnya yaitu airway (jalan napas).

d.      Airway (jalan napas)
Hal yang dilakukan yaitu membuka jalan napas untuk menghilangkan sumbatan apabila terdapat sumbatan. Sumbatan dapat berupa sumbatan parsial maupun sumbatan total. Biasanya penyebab utamanya yaitu lidah dan benda asing. Teknik membuka ada 2 yaitu: angkat dagu tekan dahi dan jaw thrust maneuver. Untuk penolong pertama hal yang boleh dilakukan yaitu angkat dagu tekan dahi. Untuk jaw thrust maneuver hanya boleh dilakukan oleh penolong yang benar-benar terlatih atau tim medis yang terlatih. Apabila terdapat sumbatan, bisa dilakukan pembersihan dengan teknik finger sweep (sapuan jari). Teknik tersebut tidak boleh dilakukan pada bayi dan anak kecil, kecuali apabila benda asingnya sudah terlihat di mulut.
Untuk membersihakan napas pada orang dewasa bisa dengan Manuver Heimlich yaitu upaya membebaskan jalan napas karena tersumbat benda asing, berupa:
1.       Hentakan Perut (abdominal thrust) pd. penderita dewasa ada respon.
2.      Hentakan dada (Chest Thrust) pada penderita dewasa ada respon yang gemuk & ibu hamil.
3.       Hentakan Dada / hentakan perut pada penderita dewasa tidak ada respon.
Apabila jalan napas telah bersih, langsung masuk ke tahap selanjutnya yaitu Breathing (bantuan napas).
e.      Breathing (bantuan napas)
Teknik memberikan bantuan napas buatan   
1.       Melalui mulut penolong menggunakan  masker RJP/APD atau secara langsung ke hidung/mulut penderita.
2.      Menggunakan alat bantu berupa masker berkatup (BVM)
Frekuensi pemberian napas buatan :
Dewasa        : 10-12 x/mnt (1,5 -2 dtk/napas)
Anak (1-8th): 20 x/mnt (1-1,5 dtk/napas)
Bayi (0-1th) : > 20 x/mnt (1-1,5 dtk/napas)
Bayi (BBL)  : 40 x/mnt (1-1,5 dtk/napas)

Apabila nadi dan napas telah ada, tetap awasi dan pertahankan jalan napas. Lanjutkan ke tahap selnjutnya yaitu pemeriksaan fisik.
3.       Pemeriksaan fisik
Penilaian dini harus diselesaikan terlebih dahulu dan keadaan yang mengancam nyawa harus sudah ditanggulangi sebelum melanjutkan ke pemeriksaan selanjutnya yaitu pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan fisik hal yang dapat dilakukan yaitu mengenai:
Perubahan bentuk - (Deformities)
Luka Terbuka - (Open Injuries)
Nyeri - (Tenderness)
Bengkak - (Swelling)


4.      Posisi pemulihan
Setelah dilakukan pertolongan, koban dibaringkan dalam posisi pemulihan apabila ditinggalkan tanpa ada orang. Caranya yaitu: tangan koban diletakkan dipipi, kaki korban yang berlawanan dengan posisi penolong ditekuk, tubuh korban dihadapkan ke posisi penolong.
5.       Riwayat penderita
Hal yang dapat dilakukan ialah menanyakan riwayat penderita meliputi:
K = Keluhan Utama (gejala dan tanda)
O = Obat-obatan yang diminum
M =Makanan/minuman terakhir
P = Penyakit yang diderita
A = Alergi yang dialami
K = Kejadian.
6.      Pemeriksaan berkala atau lanjut
Lakukan pemeriksaan berkala, sesuai dengan berat ringannya kasus yang kita hadapi.
Pada kasus yang dianggap berat à lakukan pemeriksaan berkala setiap 5 menit
Pada kasus yang ringan à dapat dilakukan setiap 15 menit sekali.
7.       Pelaporan dan serah terima
Serah terima dilakukan di lokasi, yaitu saat tim bantuan datang ke lokasi, atau penolong yang mendatangi fasilitas kesehatan

Referensi:
American Heart Association (AHA)., 2010. Pedoman Cardiopulmonary Resucitation (CPR)  Perawatan Darurat Kardiovaskular. Jurnal Circulation
Divisi PEPER UKESMA UGM


 

0 komentar: