TOP NEWS

Selasa, 02 Oktober 2012

Manajemen Post-Partum




1.  Kebersihan diri
Kebersihan diri meliputi kebersihan seluruh tubuh ibu post-partum.
a.  Pakaian
 Pakaian yang digunakan ibu pada masa nifas sebaiknya yang terbuat dari bahan yang mudah menyerap keringat dan tidak terlalu ketat, hal tersebut dimaksudkan supaya pada payudara tidak tertekan dan tetap kering serta pada daerah kelamin tidak terjadi iritasi.
b.  Mandi
Setelah persalinan, ibu dapat melakukan mandi secara normal pada pagi dan sore hari untuk menjaga kebersihan diri.
c.  Kebersihan kulit
Kulit pada ibu setelah melahirkan dapat dijaga dengan mandi lebih sering karena setelah melahirkan ibu akan mengeluarkan keringat lebih banyak.
d.  Kebersihan rambut
Kebersihan rambut setelah melahirkan dapat dilakukan dengan mencuci rambut menggunakan shampo/kondisioner. Pengeringan rambut dengan alat sebaiknya dihindari.
e.  Perawatan luka perineum/ luka persalinan
Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk mencegah infeksi pada
luka perineum:
a) Siapkan alat-alat seperti sabun dan pembalut bersih.
b) Cuci tangan dengan air mengalir.
c) Lepas pembalut kotor dari depan kebelakang.
d) Semprotkan atau cuci dengan sabun dari depan ke belakang, bilas dengan air bersih dengan cara yang sama.
e) Keringkan dengan washlap dari depan ke belakang.
f) Oleskan betadin dari depan ke belakang, jika ada luka jahitan.
g) Pasang pembalut dari depan ke belakang.
h) Rapikan alat dan cuci tangan.
i) Perhatikan tanda infeksi (kemerahan, bengkak, perdarahan disekitar luka, keluar nanah, terasa panas/ perih diluka, luka jahitan terbuka atau menganga). Hari ke-10  luka jahitan sudah menyambung dan sembuh.
j) Minimal ganti pembalut tiap 4 jam.
k) Mengurangi nyeri perineum: kompres es atau duduk rendam dengan cairan betadin.

2.  Istirahat dan tidur
Istirahat dan tidur merupakan hal yang penting dilakukan setelah ibu melahirkan. Pada saat istirahat, bukan berarti ibu tidak melakukan aktivitas apapun, tetapi ibu bisa melakukan kegiatan seperti berjalan-jalan untuk mencapai keadaan yang tenang, relaks, bebas dari rasa gelisah, dan bebas dari tekanan emosional. Pada saat tidur, ibu mendapatkan suatu perubahan kesadaran ketika persepsi dan reaksi terhadap lingkungan menurun. Setelah melahirkan, ibu sebaiknya mempunyai waktu yang cukup untuk tidur. Hal tersebut berguna bagi ibu karena: tidur dapat meregenerasi sel-sel tubuh yang rusak menjadi sel yang baru; memperlancar produksi hormon pertumbuhan; memperlancar produksi ASI; mengistirahatkan bagian tubuh yang lelah akibat aktivitas yang dilakukan; meningkatkan kekebalan tubuh; menambah konsentrasi.
   Pada saat istirahat setelah melahirkan, posisi tidur yang dianjurkan pada ibu yaitu telentang dengan satu bantal yang tipis. Hal tersebut dianjurkan untuk memudahkan pengawasan terhadap keadaan kontraksi uterus dan mengawasi pendarahan. Istirahat tidur yang diperlukan ibu setelah melahirkan yaitu sekitar 8 jam pada malam hari dan 1 jam pada siang hari.
   Apabila ibu mengalami kesulitan untuk beristirahat tidur, ibu dapat berkosultasi dengan dokter untuk pemberian obat tidur dan dilakukan observasi terhadap penyebabnya. Hal tersebut penting dilakukan karena apabila ibu kurang istirahat dapat berpengaruh terhadap jumlah ASI yang diproduksi; proses involusi; pendarahan; depresi;perawatan ibu terhadap bayi maupun dirinya.

3.  Senam dan Latihan
Senam nifas adalah senam yang dilakukan setiap hari sejak hari pertama melahirkan sampai hari kesepuluh yang terdiri dari gerakan-gerakan tubuh untuk mempercepat proses pemulihan.
a.  Tujuan senam pada masa nifas:
1)  Membantu mempercepat pemulihan keadaan ibu.
2)  Mempercepat proses involusi dan pemulihan fungsi alat alat kandungan.
3)  Membantu memulihkan kekuatan dan kekencangan otot-otot panggul, perut, dan perineum terutama otot yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan.
4)  Memperlancar pengeluaran lochea.
5)  Membantu mengurangi rasa sakit pada otot-otot setelah melahirkan.
6)  Merelaksasikan otot-otot yang menunjang proses kehamilan dan persalinan.
7)  Meminimalisir timbulnya kelainan dan komplikasi nifas, misalnya emboli, trombosia, dan lain-lain.
b.  Waktu melakukan senam nifas
Senam nifas dilakukan ibu setelah melahirkan apabila tidak terdapat komplikasi seperti hipertensi, kejang, pendarahan, demam maupun penyakit lainnya. Waktu melakukan senam nifas bisa pagi hari maupun sore hari. Sebaiknnya senam nifas dilakukan diantara waktu makan. Hal tersebut disebabkan oleh apabila sebelum makan ibu akan dikhawatirkan akan lemas, dan apabila setelah makan dikhawatirkan ibu akan merasa kurang nyaman karena perut masih terasa penuh.
c.  Hal-hal yang perlu dilakukan
Hari pertama
Posisi tubuh telentang dan rileks, lakukan pernafasan perut dengan cara ambil napas melalui hidung, kembungkan perut dan tahan hingga hitungan ke-5, lalu keluarkan napas pelan-pelan melalui mulut sambil mengontraksikan otot perut. Gerakan tersebut diulang-ulang hingga 8 (delapan) kali.
Hari kedua
Tubuh telentang dengan kedua kaki lurus ke depan. Kedua tangan diangkat lurus ke atas sampai kedua telapak tangan bertemu, kemudian turunkan kedua tangan perlahan-lahan sampai kedua tangan terbuka lebar hingga sejajar dengan bahu. Lakukan gerakan tersebut dengan mantap hingga otot sekitar tangan dan bahu terasa kencang. Gerakan tersebut diulang-ulang hingga 8 (delapan)   kali.
Hari ketiga
Posisi tubuh berbaring lurus dengan posisi tangan berada di samping badan dan kedua lutut ditekuk. Angkat pantat secara perlahan kemudian turunkan kembali pantan secara pelan-pelan (jangan menghentakkan). Gerakan tersebut diulangi sebanyak 8 (delapan) kali.
Hari keempat
Posisi tubuh berbaring dengan tangan kiri berada di samping tubuh dan tangan kanan di atas perut serta lutut ditekuk. Angkat kepala hingga dagu menyentuh dada sambil mengerutkan otot sekitar anus dan mengontraksikan otot perut. Turunkan kepala secara pelan-pelan ke posisi semula sambil mengendorkan otot sekitar anus dan relaksasikan otot perut. Pada saat melakukan aturlah pola pernapasan. Gerakan tersebut diulangi sebanyak 8 (delapan) kali.
Hari kelima
Posisi tubuh telentang, kaki kanan lurus, kaki kiri ditekuk, tangan kanan menyentuh lutut kiri yang ditekuk, sambil mengangkat kepala sampai dagu menyentuh dada disertai dengan mengerutkan otot sekitar anus dan mengontraksikan perut. Lakukan sebaliknya yaitu kaki kiri lurus, kaki kanan ditekuk, tangan kiri menyentuh lutut kanan yang ditekuk sambil mengangkat kepala sampai dagu menyentuh dada disertai dengan mengerutkan otot sekitar anus dan mengontraksikan perut. Lakukan gerakan tersebut secara perlahan-lahan. Gerakan tersebut diulangi sebanyak 8 (delapan) kali.
Hari keenam
Posisi tidur telentang, kaki lurus, kedua tangan berada di samping badan. Kemudian lutut ditekuk ke arah perut 90 derajat secara bergantian antara kaki kiri dan kaki kanan. Lakukan perlahan-lahan tetapi tetap bertenaga ketika menurunkan kaki. Gerakan tersebut diulangi sebanyak 8 (delapan) kali.
Hari ketujuh
Posisi tubuh telentang, kaki lurus, kedua tangan berada di samping tubuh. Angkat kedua kaki secara bersamaan dalam keadaan lurus sambil mengontraksikan perut, kemudian turunkan secara perlahan. Gerakan tersebut dilakukan sesuai kemampuan dan jangan memaksakan diri. Gerakan diulangi sebanyak 8 (delapan) kali.
Hari kedelapan
Posisi tubuh menungging, lakukan napas melalui perut. Kerutkan anus dan tahan 5-10 detik sambil ambil napas dan keluarkan napas pelan-pelan sambil mengendurkan anus. Gerakan diulangi sebanyak 8 (delapan) kali.
Hari kesembilan
Posisi berbaring, kaki lurus, kedua tangan berada di samping badan. Angkat kedua kaki dalam posisi lurus sampai 90 derajat kemudian turunkan kembali secara perlahan. Perhatikan napas saat mengangkat dan menurunkan kaki. Gerakan diulangi sebanyak 8 (delapan) kali.
Hari kesepuluh
Posisi tidur telentang dengan kaki lurus, kedua telapak tangan diletakkan dibelakang kepala, kemudian bangun sampai posisi duduk lalu tidur kembali secara perlahan-lahan jangan memaksakan. Kekuatan bertumpu pada perut, jangan gunakan kedua telapak tangan untuk mendorong tubuh ke posisi duduk sebab berisiko terjadi nyeri pada leher. Gerakan diulangi sebanyak 8 (delapan) kali.
4.  Gizi
Setelah melahirkan ibu yang menyusui membutuhkan tambahan 500 kalori setiap hari. Nutrisi yang dianjurkan meliputi:
a.   Buah-buahan dan sayuran hijau. Ibu membutuhkan 3 porsi sayuran hijau dan buah-buahan perhari. Porsi tersebut dapat dibagi menjadi 3 kali makan yaitu 1 porsi dipagi hari, 1 porsi disiang hari, 1 porsi disore/malam hari. Ibu dapat memilih makanan yang setara dengan 1 porsi yaitu 1/8  semangka; ¼ mangga; ¾ brokoli; ½ wortel; ¼- ½ sayuran hijau yang telah dimasak atau 1 tomat.
b.   Makanan yang mengandung protein. Protein yang dibutuhkan ibu setelah melahirkan yaitu sekitar 3 porsi. Satu porsi protein setara dengan 3 gelas susu; 2 butir telur; 120 gram keju; 1 gelas yogurt; 120-140 gram ikan/daging/ayam; 200-240 gram tahu; 5-6 sendok selai kacang. Ibu dapat memilih salah satu dari porsi yang tersedia untuk melengkapi makanan yang akan dikonsumsi.
c.   Vitamin dan mineral. Setelah melahirkan ibu dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi. Zat besi dapat diperoleh dari daging, hati, sereal, dll. Apabila perlu, ibu dapat mengonsumsi pil zat besi selama 40 hari setelah melahirkan untuk menambah zat gizi dan kapsul vitamin A (200.000 unit) yang dapat diberikan pada bayi melalui ASI.
Untuk membantu penyerapan zat besi yang baik terutama dari kelompok nabati seperti bayam, ibu perlu mengonsumsi vitamin C seperti buah jeruk, kiwi, strawberi, melon, tomat yang dapat dikonsumsi secara bersamaan. Selain itu, ibu juga membutuhkan asam folat yang juga diperlukan untuk bayinya. Asam folat dapat diperoleh dari sayuran hijau seperti bayam, sawi, selada, dll.
d.   Kalsium dan vitamin D. Setelah melahirkan ibu membutuhkan kalsium dan vitamin D untuk pembentukan tulang. Kalsium dan vitamin D dapat diperoleh dari susu yang rendah kalori/ berjemur dipagi hari. Pada masa menyusui ibu membutuhkan kalsium sebanyak 5 porsi sehari. Ibu dapat memilih 1 porsi untuk tiap kali makan yang setara dengan 1 cangkir susu; 160 gram ikan salmon; 120 gram ikan sarden/ 280 gram tahu.
e.   Makanan yang mengandung zinc untuk penyambuhan luka dan pertumbuhan. Makanan yang mengandung zinc yaitu daging, telur, dan gandum. Tiap hari ibu membutuhkan 12 mg.
f.   Cairan. Pada masa nifas ibu membutuhkan 3 liter (12 gelas) air per hari. Ibu dapat minum air putih, jus, atau susu. Untuk mengetahui kecukupan cairan yang diminum, ibu dpat melihat dari air seni. Apabila air seni berwarna kuning gelap, berarti ibu kekurangan cairan dan perlu untuk minum yang lebih banyak. Apabila air seni berwarna jernih, berarti kebutuhan cairan ibu sudah terpenuhi/cukup.

5.  Perawatan payudara
Perawatan payudara setelah melahirkan meliputi:
a.  Teknik menyusui
Ibu perlu mengetahui tanda-tanda bayi lapar dan membutuhkan ASI meliputi:
 1. Bayi akan membuka mulut apabila mulut bayi disentuh.
 2. Bayi memasukkan tangan ke mulut
 3. Bayi menangis, yang merupakan tanda bayi lapar lebih lanjut.

a. Sebelum mulai menyusui, sebaiknya ibu cuci tangan terlebih dahulu dan oleskan sedikit ASI disekitar puting ibu.
b.  Ibu mengetahui posisi ideal puting susu dalam mulut bayi.
c. Ibu perlu memperhatikan tanda-tanda perlekatan yang baik meliputi:
a.  Areola yang terlihat di atas mulut bayi lebih luas ketimbang di bawah.
b.  Mulut bayi terbuka lebar
c.  Bibir bawah bayi terlipat keluar
d.  Dagu bayi menempel ke payudara ibu
e.  Pipi bayi terlihat membulat
d. Bayi akan menyusu efektif dengan tanda-tanda sebagai berikut:
a.  Bayi melakukan isapan lambat dan dalam,
b.  Berhenti sebentar dan menunggu sampai saluran ASI mengisi lagi
c.  Bayi melakukan beberapa isapan yang cepat untuk memerah ASI
d.  Ketika ASI mengalir, isapannya menjadi lebih dalam dan lebih lambat lagi serta terdengar suara bayi menelan dan terlihat pipi membulat.
e. Bayi akan mengakhiri sendiri kegiatan dalam meyusu. Bayi akan melepaskan sendiri payudara, tampak puas dan mengantuk. Hal tersebut menunjukkan bayi sudah mendapatkan semua kebutuhan dari satu payudara. Bayi mungkin ingin menyusu atau tidak menyusu pada payudara yang satunya.

Posisi menyusui
1.  Gendong bayi dengan seluruh tubunhya menghadap ke ibu,
2.  Posisi hidung dan dagu bayi menghadap ke payudara ibu,
3.  Tahan kepala, leher, dan punggung bayi dengan tangan ibu,
4. Bayi sebaiknya mengangkupkan seluruh bagian puting dan areola (bagian hitam di sekitar puting) masuk ke dalam mulutnya.
b. Perawatan payudara
Pengurutan Pertama
Licinkan kedua telapak tangan dengan minyak.Tempatkan kedua telapak tangan diantara kedua payudara. Lakukan pengurutan dimulai dari tengah, atas, kesamping, dan kebawah. Selanjutnya urut ke arah depan puting, lalu kedua tangan dilepas dari payudara. Ulangi gerakan 20-30 kali.

Pengurutan kedua
Sokong payudara kiri dengan tangan kiri, 2 atau 3 jari tangan kanan membuat gerakan memutar sambil menekan mulai dari pangkal payudara dan berakhir pada puting payudara kanan. Lakukan 2x gerakan setiap payudara.

Pengurutan ketiga
Sokong payudara dengan satu tangan, sedangkan tangan lain mengurut payudara dengan sisi kelingking dari arah tepi ke arah puting susu. Lakukan gerakan ini 30 kali.

Pengompresan
Kompres kedua payudara dengan washlap hangat selama 2 menit, lalu ganti dengan washlap dingin selama 1 menit. Kompres bergantian selama 3 kali berturut-turut dan diakhiri dengan kompres hangat. Pengosongan ASI dilakukan untuk mencegah pembendungan ASI.

c.  Perawatan puting susu
  Kompres kedua puting susu dengan kapas yang telah dibasahi dengan minyak selama 5 menit agar kotoran mudah diangkat.
  Jika puting susu normal lakukan perawatan berikut: oleskan minyak pada ibu jari dan telunjuk, lalu letakkan keduanya pada puting susu. Lakukan gerakan memutar ke arah dalam sebanyak 30 kali putaran untuk kedua puting susu. Gerakan ini untuk meningkatkan elastisitas otot puting susu.

 Jika puting susu datar atau masuk ke dalam:
Letakkan kedua ibu jari di sebelah kiri dan kanan puting susu. Kemudian tekan dan hentakkan ke arah luar menjauhi puting susu secara perlahan.
Letakkan kedua ibu jari di atas dan di bawah puting susu, lalu tekan dan hentakkan ke arah luar menjauhi puting susu secara perlahan.

d.  Pijat oksitosin
Pijat oksitosin dilakukan pada ibu untuk meningkatkan kenyamanan, meningkatkan gerakan ASI ke payudara, menambah pengisian ASI ke payudara, dan melancarkan pengeluaran ASI.
Pada saat melakukan pijat oksitosin ibu memerlukan minyak kelapa, handuk, meja dan kursi. Langkah-langkah untuk melakukan pijat oksitosin sebagai berikut:
1)  Sebelum melakukan pemijatan, perawat atau pemberi pijatan (bisa dari anggota keluarga) mencuci tangan terlebih dahulu. Ibu membuka baju dan melepas pengikat atau kutang.
2)  Langkah selanjutnya yaitu menstimulasi puting susu dengan cara menarik dan memutar puting susu secara pelan-pelan dengan jari dilanjutkan mengurut/mengusap payudara dengan tekanan ringan menggunakan ibu jari.
3)  Langkah berikutnya, ibu duduk dengan kaki menapak pada lantai (apabila kaki tidak dapat menapak lantai, bisa diberikan kursi atau barang lainnya yang membuat kaki  tidak menggantung), ibu bersandar ke depan dengan lengan ditekuk dan diletakkan di atas meja, kepala di atas lengan, posisi payudara ibu menggantung. Handuk diletakkan pada pangkuan ibu.
4)  Posisi pemijat yaitu berada dibelakang ibu, posisi tangan mengepal kecuali ibu jari.
5)  Lakukan pijat dengan kedua ibu jari pada punggung ibu sejajar dengan tulang belakang dengan membentuk lingkaran kecil yang dimulai dari leher di kedua sisi tulang belakang kanan dan kiri sampai ke arah tulang belikat (punuk).
6)  Pemijatan tersebut dilakukan 2-3 menit minimal 2 kali sehari.

6.  Senggama
Setelah melahirkan ibu mengalami kelelahan, gambaran diri yang buruk, dan mengeluarkan darah yang akan berhenti pada minggu ke-2 hingga minggu ke-4 setelah melahirkan. Ketertarikan ibu terhadap hubungan seksual lebih sedikit dibandingkan suami. Hal tersebut disebabkan hormon yang rendah, penyesuaian terhadap peran, maupun kelelahan akibat kurang tidur dan istirahat.

Waktu memulai hubungan seksual
Pasangan suami istri dianjurkan untuk melakukan hubungan seksual ketika darah yang keluar pada ibu (lokia) sudah berhenti, jalan lahir sudah sembuh, dan ibu merasa tidak sakit untuk melakukan hubungan seksual. Apabila hubungan seksual menyebabkan rasa tidak nyaman pada salah satu pihak, pasangan suami istri harus menunggu lebih lama untuk memulai hubungan seksual atau menggantikan dengan aktivitas lain tanpa hubungan suami istri seperti mencium atau memeluk.

Posisi hubungan suami istri yang nyaman dan memungkinkan
Posisi yang dinjurkan untuk hubungan seksual setelah melahirkan untuk menghindari penekanan penis yang terlalu keras yaitu posisi ibu di atas (female superior) atau bersebelahan (side-by-side). Hal tersebut membuat ibu dapat mengontrol kedalaman penis dan membuat ibu nyaman. Selama orgasme ASI dapat keluar yang disebabkan pelepasan hormon oksitosin. Apabila hal tersebut membuat ibu merasa tidak nyaman, ibu dapat mengantisipasi dengan menyusui terlebih dahulu sebelum melakukan hubungan seksual.

7.  Keluarga Berencana (KB)
Penggunaan metode KB dilakukan pada ibu masa nifas sekurang-kurangnya 2 tahun sebelum ibu hamil kembali. Penggunaan metode KB dilakukan dengan mempertimbangkan efektivitas metode dalam mencegah kehamilan, kelebihan dan kekurangan metode tersebut, efek samping, cara menggunakan metode tersebut, serta indikasi pemakaian metode tersebut. Sebelum melakukan kontrasepsi suami istri perlu mendiskusikan metode kontrasepsi yang sesuai dan disepakati.
Pada masa nifas, metode terbaik yang dapat digunakan yaitu kondom yang ditambahkan lubrikasi (pemberian jel) pada vagina karena pada masa tersebut vagina ibu masih relatif “kering”.
Ibu yang menyusui pada masa nifas disarankan untuk tidak melakukan hubungan seksual sampai metode kontrasepsi yang tepat dan benar-benar aman digunakan. Hal tersebut dimaksudkan supaya tidak mengganggu jumlah maupun kualitas ASI.

Metode kontrasepsi yang berkaitan dengan menyusui antara lain:
a.  Natural family planning atau keluarga berencana alamiah. Keluarga berencana alamiah adalah pengendalian kehamilan dengan cara alami tidak menggunakan alat, kimia, maupun obat-obatan. Keluarga berencana alami dapat dilakukan bersamaan dengan metode lain seperti metode penghalang (tidak melakukan hubungan seksual suami istri).
b.  Kondom
Pada saat menyusui, penggunaan kondom dianjurkan karena relatif aman digunakan dan tidak mempengaruhi proses menyusui/laktasi maupun perkembangan bayi.
c.  Pil
Pil yang dianjurkan untuk ibu menyusui yaitu pil yang mengandung progestin yang digunakan setelah 6 minggu melahirkan untuk meminimalkan pendarahan yang tidak teratur dan menghindarkan bayi terpapar dari hormon luar pada saat enzim hati pada bayi masih dalam proses pematangan. Yang perlu diperhatikan ibu menyusui yaitu pil kombunasi yang mengandung estrogen dan progesteron tidak boleh digunakan selama menyusui karena dapat mengurangi produksi ASI dan mengubah kandungan ASI.
d.  Suntik
Ibu dapat melakukan kontrasepsi suntik setelah 6 minggu melahirkan. Hal tersebut dimaksudkan untuk meminimalkan pendarahan dan memberikan kesempatan pada enzim bayi untuk berkembang dengan sempurna.
e.  IUD
Ibu dengan persalinan normal dapat melakukan pemasangan IUD setelah 6 minggu melahirkan, pada ibu dengan persalinan melalui operasi sesar dapat melakukan pemasangan IUD sekrang-kurangnya setelah 6-8 minggu untuk mengurangi risiko terlepasnya IUD.

B.  TANDA BAHAYA MASA NIFAS
1.  Pendarahan
Pendarahan masa nifas adalah pendarahan yang melebihi 500 ml setelah bayi lahir yang ditandai dengan keadaan lemah, limbung, keringat, dingin, menggigil, hiperpnea, sisitolik < 90 mmHg, nadi > 100 x permenit, Hb < 8 g %.

Cara mengukur pendarahan yang keluar dari vagina
a.  Apabila pada pembalut ibu terdapat darah kira-kira sepanjang 5 cm, darah yang keluar sama dengan 10 ml;
b.  Apabila pada pembalut terdapat darah kira-kira sepanjang 10 cm darah, darah yang keluar sama dengan 10-25 ml;
c.  Apabila pada pembalut terdapat darah kira-kira sepanjang 15 cm darah, berarti darah yang keluar sama dengan 25-50 ml;
d.  Apabila pada pembalut terdapat darah kira-kira sepanjang 20 cm darah, darah yang keluar sama dengan 50-80 ml.




Referensi
Association of Reproductive Health Professionals. (2006). Postpartum counseling. Diambil dari www.arhp.com pada tanggal 7 September 2012
Bonyata, K. (2011). Exercise and breastfeeding. Diambil dari www.kellymom.com pada tanggal 7 September 2012
Hapsari, E.D. (2008). Seputar metode kontrasepsi
RSIA Bunda Arif. (2011). Senam pasca persalinan pada masa nifas. Purwokerto: Kesehatan Ibu
Saifuddin. (2002). Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

WHO. (2011). Pelatihan konseling menyusui. UNICEF

0 komentar: