Manajemen Post-Partum

1. Kebersihan diri
Kebersihan diri meliputi kebersihan
seluruh tubuh ibu post-partum.
a.
Pakaian
Pakaian yang digunakan ibu pada masa nifas
sebaiknya yang terbuat dari bahan yang mudah menyerap keringat dan tidak
terlalu ketat, hal tersebut dimaksudkan supaya pada payudara tidak tertekan dan
tetap kering serta pada daerah kelamin tidak terjadi iritasi.
b.
Mandi
Setelah persalinan, ibu dapat melakukan mandi secara
normal pada pagi dan sore hari untuk menjaga kebersihan diri.
c.
Kebersihan kulit
Kulit pada ibu setelah melahirkan dapat dijaga dengan
mandi lebih sering karena setelah melahirkan ibu akan mengeluarkan keringat
lebih banyak.
d.
Kebersihan rambut
Kebersihan rambut setelah melahirkan dapat dilakukan
dengan mencuci rambut menggunakan shampo/kondisioner. Pengeringan rambut dengan
alat sebaiknya dihindari.
e.
Perawatan luka perineum/ luka persalinan
Hal-hal yang perlu diperhatikan
untuk mencegah infeksi pada
luka perineum:
a)
Siapkan alat-alat
seperti sabun dan pembalut bersih.
b)
Cuci tangan dengan
air mengalir.
c)
Lepas pembalut
kotor dari depan kebelakang.
d)
Semprotkan atau
cuci dengan sabun dari depan ke belakang, bilas dengan air bersih dengan cara
yang sama.
e)
Keringkan dengan
washlap dari depan ke belakang.
f)
Oleskan betadin
dari depan ke belakang, jika ada luka jahitan.
g)
Pasang pembalut
dari depan ke belakang.
h)
Rapikan alat dan
cuci tangan.
i)
Perhatikan tanda infeksi
(kemerahan, bengkak, perdarahan disekitar luka, keluar nanah, terasa panas/
perih diluka, luka jahitan terbuka atau menganga). Hari ke-10 luka jahitan sudah menyambung dan sembuh.
j)
Minimal ganti
pembalut tiap 4 jam.
k)
Mengurangi nyeri
perineum: kompres es atau duduk rendam dengan cairan betadin.
2. Istirahat dan tidur
Istirahat dan tidur merupakan hal yang penting dilakukan setelah ibu
melahirkan. Pada saat istirahat, bukan berarti ibu tidak melakukan aktivitas
apapun, tetapi ibu bisa melakukan kegiatan seperti berjalan-jalan untuk
mencapai keadaan yang tenang, relaks, bebas dari rasa gelisah, dan bebas dari
tekanan emosional. Pada saat tidur, ibu mendapatkan suatu perubahan kesadaran
ketika persepsi dan reaksi terhadap lingkungan menurun. Setelah melahirkan, ibu
sebaiknya mempunyai waktu yang cukup untuk tidur. Hal tersebut berguna bagi ibu
karena: tidur dapat meregenerasi sel-sel tubuh yang rusak menjadi sel yang
baru; memperlancar produksi hormon pertumbuhan; memperlancar produksi ASI; mengistirahatkan
bagian tubuh yang lelah akibat aktivitas yang dilakukan; meningkatkan kekebalan
tubuh; menambah konsentrasi.
Pada saat
istirahat setelah melahirkan, posisi tidur yang dianjurkan pada ibu yaitu
telentang dengan satu bantal yang tipis. Hal tersebut dianjurkan untuk
memudahkan pengawasan terhadap keadaan kontraksi uterus dan mengawasi
pendarahan. Istirahat tidur yang diperlukan ibu setelah melahirkan yaitu
sekitar 8 jam pada malam hari dan 1 jam pada siang hari.
Apabila ibu
mengalami kesulitan untuk beristirahat tidur, ibu dapat berkosultasi dengan
dokter untuk pemberian obat tidur dan dilakukan observasi terhadap penyebabnya.
Hal tersebut penting dilakukan karena apabila ibu kurang istirahat dapat berpengaruh
terhadap jumlah ASI yang diproduksi; proses involusi; pendarahan;
depresi;perawatan ibu terhadap bayi maupun dirinya.
3. Senam dan Latihan
Senam nifas adalah senam
yang dilakukan setiap hari sejak hari pertama melahirkan sampai hari kesepuluh
yang terdiri dari gerakan-gerakan tubuh untuk mempercepat proses pemulihan.
a.
Tujuan senam pada masa nifas:
1) Membantu mempercepat pemulihan
keadaan ibu.
2) Mempercepat proses involusi dan
pemulihan fungsi alat alat kandungan.
3) Membantu memulihkan kekuatan dan
kekencangan otot-otot panggul, perut, dan perineum terutama otot yang berkaitan
dengan kehamilan dan persalinan.
4) Memperlancar pengeluaran lochea.
5) Membantu mengurangi rasa sakit pada
otot-otot setelah melahirkan.
6) Merelaksasikan otot-otot yang
menunjang proses kehamilan dan persalinan.
7) Meminimalisir timbulnya kelainan dan
komplikasi nifas, misalnya emboli, trombosia, dan lain-lain.
b.
Waktu melakukan senam nifas
Senam nifas dilakukan ibu setelah melahirkan apabila
tidak terdapat komplikasi seperti hipertensi, kejang, pendarahan, demam maupun
penyakit lainnya. Waktu melakukan senam nifas bisa pagi hari maupun sore hari.
Sebaiknnya senam nifas dilakukan diantara waktu makan. Hal tersebut disebabkan
oleh apabila sebelum makan ibu akan dikhawatirkan akan lemas, dan apabila
setelah makan dikhawatirkan ibu akan merasa kurang nyaman karena perut masih
terasa penuh.
c.
Hal-hal yang perlu dilakukan
Hari pertama
Posisi
tubuh telentang dan rileks, lakukan pernafasan perut dengan cara ambil napas
melalui hidung, kembungkan perut dan tahan hingga hitungan ke-5, lalu keluarkan
napas pelan-pelan melalui mulut sambil mengontraksikan otot perut. Gerakan tersebut
diulang-ulang hingga 8 (delapan) kali.
Hari kedua
Tubuh
telentang dengan kedua kaki lurus ke depan. Kedua tangan diangkat lurus ke atas
sampai kedua telapak tangan bertemu, kemudian turunkan kedua tangan
perlahan-lahan sampai kedua tangan terbuka lebar hingga sejajar dengan bahu.
Lakukan gerakan tersebut dengan mantap hingga otot sekitar tangan dan bahu
terasa kencang. Gerakan tersebut diulang-ulang hingga 8 (delapan) kali.
Hari ketiga
Posisi
tubuh berbaring lurus dengan posisi tangan berada di samping badan dan kedua
lutut ditekuk. Angkat pantat secara perlahan kemudian turunkan kembali pantan
secara pelan-pelan (jangan menghentakkan). Gerakan tersebut diulangi sebanyak 8
(delapan) kali.
Hari keempat
Posisi
tubuh berbaring dengan tangan kiri berada di samping tubuh dan tangan kanan di
atas perut serta lutut ditekuk. Angkat kepala hingga dagu menyentuh dada sambil
mengerutkan otot sekitar anus dan mengontraksikan otot perut. Turunkan kepala
secara pelan-pelan ke posisi semula sambil mengendorkan otot sekitar anus dan
relaksasikan otot perut. Pada saat melakukan aturlah pola pernapasan. Gerakan
tersebut diulangi sebanyak 8 (delapan) kali.
Hari kelima
Posisi
tubuh telentang, kaki kanan lurus, kaki kiri ditekuk, tangan kanan menyentuh lutut
kiri yang ditekuk, sambil mengangkat kepala sampai dagu menyentuh dada disertai
dengan mengerutkan otot sekitar anus dan mengontraksikan perut. Lakukan
sebaliknya yaitu kaki kiri lurus, kaki kanan ditekuk, tangan kiri menyentuh
lutut kanan yang ditekuk sambil mengangkat kepala sampai dagu menyentuh dada
disertai dengan mengerutkan otot sekitar anus dan mengontraksikan perut. Lakukan
gerakan tersebut secara perlahan-lahan. Gerakan tersebut diulangi sebanyak 8
(delapan) kali.
Hari keenam
Posisi
tidur telentang, kaki lurus, kedua tangan berada di samping badan. Kemudian
lutut ditekuk ke arah perut 90 derajat secara bergantian antara kaki kiri dan
kaki kanan. Lakukan perlahan-lahan tetapi tetap bertenaga ketika menurunkan
kaki. Gerakan tersebut diulangi sebanyak 8 (delapan) kali.
Hari ketujuh
Posisi
tubuh telentang, kaki lurus, kedua tangan berada di samping tubuh. Angkat kedua
kaki secara bersamaan dalam keadaan lurus sambil mengontraksikan perut,
kemudian turunkan secara perlahan. Gerakan tersebut dilakukan sesuai kemampuan
dan jangan memaksakan diri. Gerakan diulangi sebanyak 8 (delapan) kali.
Hari
kedelapan
Posisi
tubuh menungging, lakukan napas melalui perut. Kerutkan anus dan tahan 5-10
detik sambil ambil napas dan keluarkan napas pelan-pelan sambil mengendurkan
anus. Gerakan diulangi sebanyak 8 (delapan) kali.
Hari
kesembilan
Posisi berbaring, kaki lurus, kedua
tangan berada di samping badan. Angkat kedua kaki dalam posisi lurus sampai 90
derajat kemudian turunkan kembali secara perlahan. Perhatikan napas saat
mengangkat dan menurunkan kaki. Gerakan diulangi sebanyak 8 (delapan) kali.
Hari
kesepuluh
Posisi
tidur telentang dengan kaki lurus, kedua telapak tangan diletakkan dibelakang
kepala, kemudian bangun sampai posisi duduk lalu tidur kembali secara
perlahan-lahan jangan memaksakan. Kekuatan bertumpu pada perut, jangan gunakan
kedua telapak tangan untuk mendorong tubuh ke posisi duduk sebab berisiko
terjadi nyeri pada leher. Gerakan diulangi sebanyak 8 (delapan) kali.
4. Gizi
Setelah melahirkan ibu yang menyusui membutuhkan tambahan
500 kalori setiap hari. Nutrisi yang dianjurkan meliputi:
a.
Buah-buahan dan sayuran hijau. Ibu membutuhkan 3 porsi
sayuran hijau dan buah-buahan perhari. Porsi tersebut dapat dibagi menjadi 3
kali makan yaitu 1 porsi dipagi hari, 1 porsi disiang hari, 1 porsi
disore/malam hari. Ibu dapat memilih makanan yang setara dengan 1 porsi yaitu
1/8 semangka; ¼ mangga; ¾ brokoli; ½
wortel; ¼- ½ sayuran hijau yang telah dimasak atau 1 tomat.
b.
Makanan yang mengandung protein. Protein yang dibutuhkan
ibu setelah melahirkan yaitu sekitar 3 porsi. Satu porsi protein setara dengan
3 gelas susu; 2 butir telur; 120 gram keju; 1 gelas yogurt; 120-140 gram
ikan/daging/ayam; 200-240 gram tahu; 5-6 sendok selai kacang. Ibu dapat memilih
salah satu dari porsi yang tersedia untuk melengkapi makanan yang akan
dikonsumsi.
c.
Vitamin dan mineral. Setelah melahirkan ibu dianjurkan
untuk mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi. Zat besi dapat diperoleh
dari daging, hati, sereal, dll. Apabila perlu, ibu dapat mengonsumsi pil zat
besi selama 40 hari setelah melahirkan untuk menambah zat gizi dan kapsul
vitamin A (200.000 unit) yang dapat diberikan pada bayi melalui ASI.
Untuk membantu penyerapan zat besi yang baik terutama
dari kelompok nabati seperti bayam, ibu perlu mengonsumsi vitamin C seperti
buah jeruk, kiwi, strawberi, melon, tomat yang dapat dikonsumsi secara
bersamaan. Selain itu, ibu juga membutuhkan asam folat yang juga diperlukan
untuk bayinya. Asam folat dapat diperoleh dari sayuran hijau seperti bayam,
sawi, selada, dll.
d.
Kalsium dan vitamin D. Setelah melahirkan ibu membutuhkan
kalsium dan vitamin D untuk pembentukan tulang. Kalsium dan vitamin D dapat
diperoleh dari susu yang rendah kalori/ berjemur dipagi hari. Pada masa
menyusui ibu membutuhkan kalsium sebanyak 5 porsi sehari. Ibu dapat memilih 1
porsi untuk tiap kali makan yang setara dengan 1 cangkir susu; 160 gram ikan
salmon; 120 gram ikan sarden/ 280 gram tahu.
e.
Makanan yang mengandung zinc untuk penyambuhan luka dan
pertumbuhan. Makanan yang mengandung zinc yaitu daging, telur, dan gandum. Tiap
hari ibu membutuhkan 12 mg.
f.
Cairan. Pada masa nifas ibu membutuhkan 3 liter (12
gelas) air per hari. Ibu dapat minum air putih, jus, atau susu. Untuk
mengetahui kecukupan cairan yang diminum, ibu dpat melihat dari air seni.
Apabila air seni berwarna kuning gelap, berarti ibu kekurangan cairan dan perlu
untuk minum yang lebih banyak. Apabila air seni berwarna jernih, berarti
kebutuhan cairan ibu sudah terpenuhi/cukup.
5. Perawatan payudara
Perawatan payudara setelah melahirkan meliputi:
a. Teknik menyusui
Ibu perlu
mengetahui tanda-tanda bayi lapar dan membutuhkan ASI meliputi:
1. Bayi akan membuka mulut
apabila mulut bayi disentuh.
2. Bayi memasukkan tangan ke
mulut
3. Bayi menangis, yang merupakan tanda bayi lapar lebih lanjut.
a.
Sebelum mulai menyusui, sebaiknya ibu cuci tangan terlebih
dahulu dan oleskan sedikit ASI disekitar puting ibu.
b.
Ibu mengetahui posisi ideal puting susu dalam mulut bayi.
c.
Ibu perlu memperhatikan tanda-tanda perlekatan yang baik
meliputi:
a.
Areola yang
terlihat di atas mulut bayi lebih luas ketimbang di bawah.
b.
Mulut bayi terbuka
lebar
c.
Bibir bawah bayi
terlipat keluar
d.
Dagu bayi menempel
ke payudara ibu
e.
Pipi bayi terlihat
membulat
d.
Bayi akan menyusu efektif dengan tanda-tanda sebagai
berikut:
a. Bayi melakukan isapan
lambat dan dalam,
b. Berhenti
sebentar dan menunggu sampai saluran ASI mengisi lagi
c. Bayi melakukan
beberapa isapan yang cepat untuk memerah ASI
d. Ketika ASI
mengalir, isapannya menjadi lebih dalam dan lebih lambat lagi serta terdengar
suara bayi menelan dan terlihat pipi membulat.
e.
Bayi akan mengakhiri sendiri kegiatan dalam meyusu. Bayi
akan melepaskan sendiri payudara, tampak puas dan mengantuk. Hal tersebut
menunjukkan bayi sudah mendapatkan semua kebutuhan dari satu payudara. Bayi
mungkin ingin menyusu atau tidak menyusu pada payudara yang satunya.
Posisi menyusui
1.
Gendong bayi dengan seluruh tubunhya menghadap ke ibu,
2.
Posisi hidung dan dagu bayi menghadap ke payudara ibu,
3.
Tahan kepala, leher, dan punggung bayi dengan tangan ibu,
4. Bayi sebaiknya mengangkupkan seluruh bagian puting dan
areola (bagian hitam di sekitar puting) masuk ke dalam mulutnya.
b. Perawatan payudara
Pengurutan Pertama
Licinkan kedua telapak tangan dengan
minyak.Tempatkan kedua telapak tangan diantara kedua payudara. Lakukan
pengurutan dimulai dari tengah, atas, kesamping, dan kebawah. Selanjutnya urut
ke arah depan puting, lalu kedua tangan dilepas dari payudara. Ulangi gerakan
20-30 kali.
Pengurutan kedua
Sokong payudara kiri dengan tangan
kiri, 2 atau 3 jari tangan kanan membuat gerakan memutar sambil menekan mulai
dari pangkal payudara dan berakhir pada puting payudara kanan. Lakukan 2x
gerakan setiap payudara.
Pengurutan
ketiga
Sokong payudara
dengan satu tangan, sedangkan tangan lain mengurut payudara dengan sisi
kelingking dari arah tepi ke arah puting susu. Lakukan gerakan ini 30 kali.
Pengompresan
Kompres kedua payudara dengan
washlap hangat selama 2 menit, lalu ganti dengan washlap dingin selama 1 menit.
Kompres bergantian selama 3 kali berturut-turut dan diakhiri dengan kompres
hangat. Pengosongan ASI dilakukan untuk mencegah pembendungan ASI.
c.
Perawatan puting susu
Kompres kedua puting susu dengan
kapas yang telah dibasahi dengan minyak selama 5 menit agar kotoran mudah
diangkat.
Jika puting susu normal lakukan perawatan berikut:
oleskan minyak pada ibu jari dan telunjuk, lalu letakkan keduanya pada puting
susu. Lakukan gerakan memutar ke arah dalam sebanyak 30 kali putaran untuk
kedua puting susu. Gerakan ini untuk meningkatkan elastisitas otot puting susu.
Jika puting susu datar atau masuk ke dalam:
Letakkan kedua ibu jari di
sebelah kiri dan kanan puting susu. Kemudian tekan dan hentakkan ke arah luar
menjauhi puting susu secara perlahan.
Letakkan kedua ibu jari di atas
dan di bawah puting susu, lalu tekan dan hentakkan ke arah luar menjauhi puting
susu secara perlahan.
d. Pijat oksitosin
Pijat oksitosin dilakukan pada ibu untuk meningkatkan kenyamanan,
meningkatkan gerakan ASI ke payudara, menambah pengisian ASI ke payudara, dan melancarkan
pengeluaran ASI.
Pada saat melakukan pijat oksitosin ibu memerlukan minyak
kelapa, handuk, meja dan kursi. Langkah-langkah untuk melakukan pijat oksitosin
sebagai berikut:
1)
Sebelum melakukan pemijatan, perawat atau pemberi pijatan
(bisa dari anggota keluarga) mencuci tangan terlebih dahulu. Ibu membuka baju
dan melepas pengikat atau kutang.
2)
Langkah selanjutnya yaitu menstimulasi puting susu dengan
cara menarik dan memutar puting susu secara pelan-pelan dengan jari dilanjutkan
mengurut/mengusap payudara dengan tekanan ringan menggunakan ibu jari.
3)
Langkah berikutnya, ibu duduk dengan kaki menapak pada
lantai (apabila kaki tidak dapat menapak lantai, bisa diberikan kursi atau
barang lainnya yang membuat kaki tidak
menggantung), ibu bersandar ke depan dengan lengan ditekuk dan diletakkan di
atas meja, kepala di atas lengan, posisi payudara ibu menggantung. Handuk
diletakkan pada pangkuan ibu.
4)
Posisi pemijat yaitu berada dibelakang ibu, posisi tangan
mengepal kecuali ibu jari.
5)
Lakukan pijat dengan kedua ibu jari pada punggung ibu
sejajar dengan tulang belakang dengan membentuk lingkaran kecil yang dimulai
dari leher di kedua sisi tulang belakang kanan dan kiri sampai ke arah tulang
belikat (punuk).
6)
Pemijatan tersebut dilakukan 2-3 menit minimal 2 kali
sehari.
6. Senggama
Setelah melahirkan ibu mengalami kelelahan, gambaran diri
yang buruk, dan mengeluarkan darah yang akan berhenti pada minggu ke-2 hingga
minggu ke-4 setelah melahirkan. Ketertarikan ibu terhadap hubungan seksual
lebih sedikit dibandingkan suami. Hal tersebut disebabkan hormon yang rendah,
penyesuaian terhadap peran, maupun kelelahan akibat kurang tidur dan istirahat.
Waktu memulai
hubungan seksual
Pasangan suami istri dianjurkan untuk melakukan hubungan
seksual ketika darah yang keluar pada ibu (lokia) sudah berhenti, jalan lahir
sudah sembuh, dan ibu merasa tidak sakit untuk melakukan hubungan seksual. Apabila
hubungan seksual menyebabkan rasa tidak nyaman pada salah satu pihak, pasangan
suami istri harus menunggu lebih lama untuk memulai hubungan seksual atau
menggantikan dengan aktivitas lain tanpa hubungan suami istri seperti mencium
atau memeluk.
Posisi hubungan
suami istri yang nyaman dan memungkinkan
Posisi yang dinjurkan untuk hubungan seksual setelah
melahirkan untuk menghindari penekanan penis yang terlalu keras yaitu posisi
ibu di atas (female superior) atau bersebelahan (side-by-side). Hal tersebut
membuat ibu dapat mengontrol kedalaman penis dan membuat ibu nyaman. Selama
orgasme ASI dapat keluar yang disebabkan pelepasan hormon oksitosin. Apabila
hal tersebut membuat ibu merasa tidak nyaman, ibu dapat mengantisipasi dengan
menyusui terlebih dahulu sebelum melakukan hubungan seksual.
7. Keluarga Berencana (KB)
Penggunaan metode KB dilakukan pada ibu masa nifas
sekurang-kurangnya 2 tahun sebelum ibu hamil kembali. Penggunaan metode KB
dilakukan dengan mempertimbangkan efektivitas metode dalam mencegah kehamilan,
kelebihan dan kekurangan metode tersebut, efek samping, cara menggunakan metode
tersebut, serta indikasi pemakaian metode tersebut. Sebelum melakukan kontrasepsi
suami istri perlu mendiskusikan metode kontrasepsi yang sesuai dan disepakati.
Pada masa nifas, metode terbaik yang dapat digunakan yaitu
kondom yang ditambahkan lubrikasi (pemberian jel) pada vagina karena pada masa
tersebut vagina ibu masih relatif “kering”.
Ibu yang menyusui pada masa nifas disarankan untuk tidak
melakukan hubungan seksual sampai metode kontrasepsi yang tepat dan benar-benar
aman digunakan. Hal tersebut dimaksudkan supaya tidak mengganggu jumlah maupun
kualitas ASI.
Metode kontrasepsi yang berkaitan dengan menyusui antara
lain:
a.
Natural family planning atau keluarga berencana alamiah.
Keluarga berencana alamiah adalah pengendalian kehamilan dengan cara alami
tidak menggunakan alat, kimia, maupun obat-obatan. Keluarga berencana alami dapat
dilakukan bersamaan dengan metode lain seperti metode penghalang (tidak
melakukan hubungan seksual suami istri).
b.
Kondom
Pada saat menyusui, penggunaan kondom dianjurkan karena
relatif aman digunakan dan tidak mempengaruhi proses menyusui/laktasi maupun
perkembangan bayi.
c.
Pil
Pil yang dianjurkan untuk ibu menyusui yaitu pil yang
mengandung progestin yang digunakan setelah 6 minggu melahirkan untuk
meminimalkan pendarahan yang tidak teratur dan menghindarkan bayi terpapar dari
hormon luar pada saat enzim hati pada bayi masih dalam proses pematangan. Yang
perlu diperhatikan ibu menyusui yaitu pil kombunasi yang mengandung estrogen
dan progesteron tidak boleh digunakan selama menyusui karena dapat mengurangi
produksi ASI dan mengubah kandungan ASI.
d.
Suntik
Ibu dapat melakukan kontrasepsi suntik setelah 6 minggu
melahirkan. Hal tersebut dimaksudkan untuk meminimalkan pendarahan dan
memberikan kesempatan pada enzim bayi untuk berkembang dengan sempurna.
e.
IUD
Ibu dengan persalinan normal dapat melakukan pemasangan
IUD setelah 6 minggu melahirkan, pada ibu dengan persalinan melalui operasi
sesar dapat melakukan pemasangan IUD sekrang-kurangnya setelah 6-8 minggu untuk
mengurangi risiko terlepasnya IUD.
B. TANDA BAHAYA MASA NIFAS
1. Pendarahan
Pendarahan masa nifas adalah pendarahan yang melebihi 500 ml setelah bayi lahir yang ditandai
dengan keadaan lemah, limbung, keringat, dingin, menggigil, hiperpnea,
sisitolik < 90 mmHg, nadi > 100 x permenit, Hb < 8 g %.
Cara mengukur pendarahan yang keluar dari vagina
a.
Apabila pada pembalut ibu terdapat darah kira-kira
sepanjang 5 cm, darah yang keluar sama dengan 10 ml;
b.
Apabila pada pembalut terdapat darah kira-kira sepanjang 10
cm darah, darah yang keluar sama dengan 10-25 ml;
c.
Apabila pada pembalut terdapat darah kira-kira sepanjang 15
cm darah, berarti darah yang keluar sama dengan 25-50 ml;
d.
Apabila pada pembalut terdapat darah kira-kira sepanjang 20
cm darah, darah yang keluar sama dengan 50-80 ml.
Referensi
Association
of Reproductive Health Professionals. (2006). Postpartum counseling. Diambil
dari www.arhp.com pada tanggal 7
September 2012
Bonyata,
K. (2011). Exercise and breastfeeding. Diambil dari www.kellymom.com pada tanggal 7 September 2012
Hapsari, E.D. (2008). Seputar metode
kontrasepsi
RSIA
Bunda Arif. (2011). Senam pasca persalinan pada masa nifas. Purwokerto:
Kesehatan Ibu
Saifuddin. (2002). Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
0 komentar: